Baca Part 1 di sini : Disruptive Phenomenon di Era Baru Revolusi Industri 4.0 – Part 1

“We didn’t do anything wrong, but then we lost” ujar Stephen Elop, CEO Nokia sebelum menyerahkan divisi handset perusahaannya yang begitu berjaya kepada Microsoft. Nokia tidak melakukan satu kesalahan pun, tetapi kemudian perusahaannya hilang produknya kalah, tergusur, tak lagi diminati pasar.

source: google images

Sustaining innovation yang dulu dianjurkan para ahli. Kini, hal ini tak cukup lagi. menjadi persoalan besar pada abad ini sebab dunia tengah menyaksikan tumbangnya merek-merek besar yang tak pernah kita duga akan secepat itu terjadi. Tanpa kesalahan apa pun. Hal ini tak hanya terjadi dalam skala global, tetapi juga di negara kita. Itulah yang tengah dialami oleh perusahaan taksi konvensional seperti Blue Bird serta perusahaan incumbent lainnya.


Slide presentasi materi ini dapat diunduh di sini

Generasi baru di era ini mulai mengembangkan model bisnis yang amat disruptive, sehingga barang dan jasa lebih terjangkau (affordable), lebih mudah terakses (accessible), lebih sederhana, dan lebih user-friendly. Mereka memperkenalkan sharing economy, on demand economy, dan segala hal yang lebih real time.

Model bisnis seperti ini dapat kita temukan di Indonesia di berbagai digital marketplace semisal Bukalapak dan Tokopedia yang menyediakan berbagai komoditas sesuai permintaan konsumen, kemudian menghubungkannya langsung kepada pemasokdengan kemudahan akses dan harga terjangkau hingga terbentuklah jejaring antar customer dan supplier. Sama halnya GoJek, transportasi online sebagai operator yang menghubungkan penumpang dengan ojek setempat sesuai dengan kebutuhan penumpang (supply on demand).

Alibaba.com marketplace yang mengaplikasikan customer and supplier network berdasarkan supply on deman oleh Jack Ma

Di berbagai negara lainnya terdapat cukup banyak perusahaan baru yang sudah melewati tahap uji coba dengan metode-metode baru. Salah satunya adalah Tesla yang menggunakan teknologi bahan bakar listrik yang baru didirikan pada 2003 di Silicon Valley, California. Selain hemat energi dan inovatif, Tesla juga sedang berkreasi membuat mobil yang bisa menyimpan energi dari matahari saat bergerak di jalan raya padia siang hari (dan juga dari putaran dinamo) dan energi tersebut pada malam hari dapat digunakan sebagai tenaga listrik di rumah. Selain itu, Tesla yang bekerja sama dengan Google juga berhasil mengembangkan mobil tanpa awak. Ini benar-benar gebrakan disruption yang bersifat non-digital economy, tetapi dilakukan untuk merespons penggunaan minyak yang berlebih. Mereka menciptakan sesuatu yang lebih hemat bahan bakar dan lebih bersahabat dengan lingkungan.

Teknologi pun sudah masuk generasi Internet of Things. Hal ini berarti media sosial dan komersial sudah memasuki titik puncaknya. Dunia kini memasuki gelombang smart device yang mendorong kita semua hidup dalam karya-karya yang cerdas dan kolaboratif. Smart home, smart city, dan smart shopping, adalah realitas baru yang harus kita hadapi. Hal ini menciptakan peluang bagi yang bergerak cepat dan beradaptasi dengan perubahan sekaligus menjadi ancaman bagi perusahaan yang enggan untuk berubah.

Dan terjadilah disruption. Inilah perubahan yang membuat incumbent menjadi usang dan kehilangan relevansi dalam menghadapi dunia baru. Incumbent yang terbelenggu karena tak ada yang memberitahu, yang memudar karena menolak perubahan model bisnis begitu cepat.

Perubahan yang terjadi diawali dengan hal sedemikian kecil sehingga terabaikan oleh mereka yang besar. Perubahan itu bahkan tidak terlihat, langsung kepada pelanggan, tanpa tanda-tanda yang bisa dibaca. Perubahan itu tiba-tiba begitu besar. Sementara para pemain lama terperangkap dan tidak sadar bahkan katika daya beli pelanggan menurun.

Beberapa supermarket besar sebagai pusat perdagangan elektronik seperti Harco (Glodok), Mangga Dua, bahkan pasar Tanah Abang serta Electronic City yang dulu ramai kini mulai mengalami penurunan penjualan. Akan tetapi perusahaan ekspedisi seperti JNE atau J&T yang sering digunakan oleh berbagai situs belanja online mengalami peningkatan pengiriman barang secara signifikan yang kemudian mengubah pola penyaluran barang dan pusat pengiriman.

The New Business Model

Peradaban dan pola bisnis baru yang diinisiasi oleh Uber di Amerika lahir sebagai model bisnis baru yang kemudian juga hadir dan dapat kita rasakan di Indonesia. Transportasi online seperti GO-JEK dan Grab juga mengusik perusahaan taksi konvensional seperti Blue Bird dan perusahaan lainnya. Seperti apa model bisnis baru ini? Mari kita kenali ciri-cirinya.

Semua ini terjadi karena kemajuan teknologi. Pertama, teknologi mengubah manusia dari peradaban time series menjadi real time. Di masa kini, semua hal menjadi serba real time. Data hari ini, pada detik ini juga langsung terolah dalam big data dan secepat itu pula bisa disimpulkan dan ditindak lanjuti.

Kedua, pada masa lampau, bila mau berbisnis, Anda harus memilikinya sendiri. Memiliki semua properti dan komoditas untuk diperdagangkan atau digunakan sebagai modal usaha. Kini kita hidup pada era aset-aset konsumtif yang terbuka untuk digunakan bersama, saling berbagi, dan tak harus dimiliki sendiri untuk memulai usaha yang disebut sebagai sharing economy. Siapapun bisa saling memanfaatkan sumber daya. Tak heran pengusaha taksi masa lalu harus mengurus dan memiliki semuanya dalam satu tangan, mulai dari perizinan, mobil, argometer pool taksi, bengkel, pusat pelatihan, asuransi, sampai sopir taksinya. Sekarang setiap peran itu bisa dilakukan siapa saja, saling menyumbang, berbagi, berkolaborasi, berjejaring.


Penerapan Sharing Economy oleh airbnb yang kini menjadi trend sharing room untuk turis menjadi lebih diminati daripada bermalam di hotel

Ketiga, teknologi masa lalu tak memungkinkan kesegeraan. Kita semua harus antre, sabar, dan rela menunggu. Namun sekarang, Anda bisa mendapatkannya begitu Anda inginkan pada saat itu juga (on demand). Saat konsumen menghendaki, Anda sudah berada di dekat mereka dengan produk atau layanan Anda. Jarak sudah mati; stok digital, data, dan armada sudah dipindahkan ke dekat lokasi yang Anda butuhkan. Teknologi dan algoritma big data memungkinkan kita melakukannya.

Keempat, kurva permintaan dan penawaran yang pada masa lalu adalah permintaan dan penawaran tunggal. Kini kita hidup dalam dunia aplikasi yang pada saat bersamaan dikerjakan oleh puluhan, bahkan ribuan jejaring yang mempercepat disruption. Jadi, setiap penawaran selalu menyangkut jaringan ribuan pihak, demikian pula dengan per-mintaan.

Reshape or Create

Kunci dari semua ini adalah manajemen baru dan disruptive mindset. Saat resesi melanda negara-negara industri, Joseph Schumpeter memperkenalkan konsep kewirausahaan. Lalu, dunia mulai terbiasa dengan siklus ekonomi (crises-growth), yaitu siklus bergantian dari pertumbuhan, lalu krisis, lalu tumbuh lagi, bergantian naik dan turun. Setelah itu, kita belajar tentang hierarki, koordinasi, allignment, pengukuran kinerja, dan seterusnya.

Semua ini memberi pencerahan bahwa kita perlu memberi ruang untuk melakukan akselerasi demi mengejar perubahan yang semakin hari semakin cepat di luar sana. Dari metode manajemen Jepang yang marak sejak 1980 melalui total quality control, dan budaya perusahaan, kita memasuki era re-enginering (1990-an), lalu change (2000), dan transformasi. Kini manajemen pada awal abad ke-21 menuntut kita menghadapi disruption dengan agile management (ketangkasan).

Pada akhirnya, pengusaha, eksekutif, komisaris perusahaan, dan pemimpin strategis lainnya perlu mengambil langkah-langkah taktis untuk terus bertahan, mempertajam yang sudah ada (reshape), atau membuat yang sama sekali baru (create). Segala sesuatu yang baru itu membutuhkan waktu yang lama untuk tumbuh dengan sempurna. Tentu kita ingat bahwa Jeff Bezos butuh 20 tahun membangun Amazon untuk tumbuh besar hingga saat ini.

Itu sebabnya, pelaku-pelaku usaha lebih senang mengambil alih perusahaan-perusahaan yang sudah jadi, memperkuat dan memperbaiki manajemen dan struktur keuangan ketimbang memulainya kembali dari awal. Hasilnya bisa lebih cepat didapat. Mereka memilih jalan reshape ketimbang create. Namun, ada satu hal yang harus dilakukan, yaitu menangani bisnis lama atau produk lama yang terserang disruption. Setidaknya, model bisnis mereka harus diperbarui, diremajakan, atau dibuat baru sama sekali.

Setiap kali berhadapan dengan peradaban baru, kita menyaksikan kepanikan-kepanikan. Padahal, setiap zaman selalu membawa kebiasaan-kebiasaan atau caranya sendiri. Tak sama dengan cara-cara pada zaman sebelumnya.

Yang lalu akan berlalu dan berakhir. Kemudian dimulailah suatu era baru. Namun, orang-orang lama punya kecenderungan menjadi panik, dan menolak. Tentu saja, ini juga tak mengapa. Hanya saja, ada konsekuensinya. Yang lama, yang menolak pembaruan akan bertarung, lalu memudar, dan tetap saja akan berakhir pada waktunya. Pendatang baru hampir pasti memilih jalur create dengan mengubah masalah yang ada sebagai kesmpatan baru, sedangkan yang lama bisa punya pemilihan yang lebih luas: reshape the old one atau create a new one.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *