Zakat adalah salah satu Rukun Islam yang wajib ditunaikan oleh seorang Muslim. Ketika bulan Ramadhan berakhir, seorang Muslim diwajibkan untuk menunaikan Zakat Fitrah sebagaimana diperintahkan oleh Allah Subhanahu Wataala dalam Al-Quran:

وَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُواْ ٱلزَّكَوٰةَ وَٱرۡكَعُواْ مَعَ ٱلرَّٰكِعِينَ

Yang Artinya:
Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku´lah beserta orang-orang yang ruku´

Permasalahan muncul bagi para mahasiswa maupun pekerja yang sedang berada di luar negeri. Dimanakah tempat  seorang muzakki membayarkan zakat fitrah-nya? Apakah di negara asal tempat seorang muzakki tinggal, atau di negara ia berada saat waktu wajib menunaikan zakat? Mari kita simak pembahasannya berdasarkan pendapat Ulama’ Mazhab dalam kutub fiqh.

Mazhab Hanafi

Menurut hanafiah, disebutkan dalam kitab Mu’jamu al-Anhar fi Syarhi Multaqo al-Abhar oleh Abdurrahman bin Muhammad bin Sulaiman bahwa, membayar Zakat di negara bukan tempat hartanya berada makruh hukumnya karena sebab Zakat adalah hartanya bukan pemiliknya.

Berbeda dengan Zakat Fitrah. Muhammad Ibn Hasan as-Syaibaani bahwa lokasi dimana seorang Muzakki berada adalah pendapat yang Asahh. Lain halnya dengan pendapat Abu Yusuf.

كُرِهَ (نَقْلُهَا) أَيْ الزَّكَاةِ بَعْدَ تَمَامِ الْحَوْلِ مِنْ بَلَدٍ (إلَى بَلَدٍ آخَرَ) غَيْرِ الْبَلَدِ الَّذِي فِيهِ الْمَالُ وَإِنْ كَانَ الْمُزَكِّي فِي بَلَدٍ، وَالْمِلْكُ فِي بَلَدٍ آخَرَ فَالْمُعْتَبَرُ مَكَانُ الْمِلْكِ لَا الْمَالِكِ بِخِلَافِ صَدَقَةِ الْفِطْرِ حَيْثُ يُعْتَبَرُ عَنْهُ مُحَمَّدٌ مَكَانَ الْمُؤَدِّي وَهُوَ الْأَصَحُّ خِلَافًا لِأَبِي يُوسُفَ

[4]

Mazhab Maliki

Sedangkan dalam kitab al-Mudawwanah oleh Imam Malik disebutkan bahwa, Zakat Fitrah ditunaikan di lokasi dimana seorang Muzakki berada. Namun, juga diperbolehkan untuk menunaikan Zakat di negara ia tinggal.

مَا قَوْلُ مَالِكٍ فِيمَنْ هُوَ مِنْ أَهْلِ إفْرِيقِيَّةَ وَهُوَ بِمِصْرَ يَوْمَ الْفِطْرِ أَيْنَ يُؤَدِّي زَكَاةَ الْفِطْرِ؟ قَالَ: قَالَ مَالِكٌ: حَيْثُ هُوَ، قَالَ مَالِكٌ: وَإِنْ أَدَّى عَنْهُ أَهْلُهُ بِإِفْرِيقِيَّةَ أَجْزَأَهُ.

[3]

Mazhab Syafi’i

Jika diwajibkan kepada seseorang Muzakki membayar zakat fitrah dan ia berada di negara yang sama dengan dari lokasi hartanya, maka diwajibkan untuk membayar zakatnya di negara tersebut. Karena, lokasi dimana hartanya beroperasi adalah lokasi seorang Muzakki membayar zakat. Kemudian, jika lokasi seorang Muzakki berbeda dengan lokasi hartanya, ada dua pertimbangan dan boleh dilaksanakan keduanya:

  • Pertimbangan negara dimana hartanya berada, dan dibayarkan disana
  • Pertimbangan negara dimana seorang Muzakki berada, dan dibayarkan di lokasi negara ia berada.

Dan pendapat yang menyatakan bahwa mengeluarkan zakat di lokasi Muzakki berada adalah pendapat yang Asahh dan dibenarkan oleh Imam an-Nawawi, dan al-Jurjani, dan al-Ghazali, dan al-Baghwi, dan al-Rafi’i, dan ulama’ syafi’iyah lainnya.

قَالَ الْمُصَنِّفُ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى: وَإِنْ وجبت عليه زكاة الفطر وهو في بلد وماله فيه وجب اخراجها إلى الاصناف في البلد لان مصرفها مصرف سائر الزكوات وان كان ماله في بلد وهو في بلد آخر ففيه وجهان:

أحدهما: أن الاعتبار بالبلد الذى فيه المال. والثاني أن الاعتبار بالبلد الذى هو فيه لان الزكاة تتعلق بعينه فاعتبر الموضع الذى هو فيه كالمال في سائر الزكواتز

الشَّرْحُ قَالَ أَصْحَابُنَا إذَا كَانَ فِي وَقْتِ وُجُوبِ زَكَاةِ الْفِطْرِ فِي بَلَدٍ وَمَالُهُ فِيهِ وَجَبَ صَرْفُهَا فِيهِ فَإِنْ نَقَلَهَا عَنْهُ كَانَ كَنَقْلِ بَاقِي الزَّكَوَاتِ فَفِيهِ الْخِلَافُ وَالتَّفْصِيلُ السَّابِقُ وان كان في بلد وماله في آخَرَ فَأَيُّهُمَا يُعْتَبَرُ فِيهِ وَجْهَانِ.

أَحَدُهُمَا: بَلَدُ الْمَالِ كَزَكَاةِ الْمَالِ (وَأَصَحُّهُمَا) بَلَدُ رَبِّ الْمَالِ مِمَّنْ صَحَّحَهُ الْمُصَنِّفُ فِي التَّنْبِيهِ وَالْجُرْجَانِيُّ فِي التَّحْرِيرِ وَالْغَزَالِيُّ وَالْبَغَوِيُّ وَالرَّافِعِيُّ وَآخَرُونَ فَعَلَى هَذَا لَوْ كَانَ لَهُ مَنْ تَلْزَمُهُ نَفَقَتُهُ وَفِطْرَتُهُ وَهُوَ فِي بَلَدٍ آخَرَ قَالَ صَاحِبُ الْبَيَانِ الَّذِي يَقْتَضِيهِ الْمَذْهَبُ أَنَّهُ يَبْنِي عَلَى الْوَجْهَيْنِ فِي أَنَّهَا تَجِبُ عَلَى الْمُؤَدِّي ابْتِدَاءً أَمْ عَلَى الْمُؤَدَّى عَنْهُ وَاَللَّهُ أَعْلَمُ

[1]

Mazhab Hanbali

Menurut riwayat Muhammad bin Hakam, Imam Ahmad bin Hanbal dalam kitab al-Mughni li Ibn Qudaamah disebutkan bahwa Zakat Fitrah harus dikeluarkan di negara dimana seorang Muzakki wajib menunaikannya, baik hartanya sedang bersamanya ataupun tidak. Karena, sebab Zakat Fitrah adalah orangnya (bukan hartanya) maka dikeluarkan di negri dimana ia berada.

فَأَمَّا زَكَاةُ الْفِطْرِ فَإِنَّهُ يُفَرِّقُهَا فِي الْبَلَدِ الَّذِي وَجَبَتْ عَلَيْهِ فِيهِ، سَوَاءٌ كَانَ مَالُهُ فِيهِ أَوْ لَمْ يَكُنْ؛ لِأَنَّهُ سَبَبُ وُجُوبِ الزَّكَاةِ، فَفُرِّقَتْ فِي الْبَلَدِ الَّذِي سَبَبُهَا فِيهِ

[2]

Source: Google Image

Kesimpulan

Dari uraian pembahasan diatas, dapat kita ambil kesimpulan, Jumhur Ulama’ sependapat bahwa Zakat Fitrah dibayarkan di negara seorang muzakki berada.

  • Menurut Ulama Mazhab Hanafi Imam Ibn Hasan as-Syaibani berpendapat bahwa Zakat Fitrah lebih baik dikeluarkan di negara Muzakki berada.
  • Menurut Mazhab Maliki Imam Malik juga berpendapat serupa. Bahwa Zakat ditunaikan di negara Muzakki berada, dan diperbolehkan pula untuk menunaikan di Negara asalnya.
  • Menurut Ulama Mazhab Syafi’i Imam an-Nawawi men-shahihkan Bahwa Zakat dibayarkan di negara ia berada. Dan dibenarkan oleh al-Jurjani, dan al-Ghazali, dan al-Baghwi, dan al-Rafi’i, dan ulama’ syafi’iyah lainnya.
  • Menurut Ulama Mazhab Hanbali, Zakat Fitrah ditunaikan dimana seorang Muzakki berada.

Semoga bermanfaat
Wallahu a’lam bishowaab


[1] المجموع شرح المهذب للنووي .226/6

[2] المغني لابن قدامة. 502/2

[3] المدونة للمالك. 385/1

[4] مجمع الأنهر في شرح ملتقى الأبحر. لعبد الرحمن بن محمد بن سليمان 255/1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *