Wawancara Tokoh

More Articles...

Edvan M. Kautsar, yang Muda yang Mengubah Dunia

MARET 2013

Pemuda, di manapun ia sudah menjadi ikon perubahan suatu bangsa. Banyak hal yang dapat dilakukan pemuda masa kini, mulai dari sekadar menyanyi sampai membangun negeri.

Adalah Edvan M. Kautsar, pemuda 19 tahun yang memiliki cita-cita mulia untuk membangkitkan Indonesia di mata dunia melalui pemudanya. Mahasiswa semester empat di UIN Jakarta ini selalu mengajak masyarakat Indonesia, terutama pemuda untuk membangun perekonomian Indonesia.

Melalui seminar-seminar motivasi, pemuda yang memulai karier menjadi pembicara sejak usia 14 tahun ini mencoba menumbuhkan jiwa “berdagang” para pemuda Indonesia dengan sistem Entrepreneur dan Character. Untuk lebih mengenalkan Edvan kepada pembaca, berikut adalah petikan wawancara Muzakki dengan Edvan di Jakarta, beberapa waktu silam.

Bagaimana kabar Edvan saat ini?

Kabar saya, alhamdulillah selalu lebih baik dari sebelumnya.

Apa saja aktivitas Edvan saat ini?

Untuk saat ini, khususnya bulan ini, saya sedang fokus mengurus bisnis Kautsar Dimsum dan Synergy English Conversation. Kautsar Dimsum ini didirikan sebagai pelopor dimsum yang halal. Kalau biasanya dimsum identik dengan daging babi dan tidak halal, kami membuat dimsum dari daging ayam dan halal pastinya. Lalu, SEC ini lembaga belajar bahasa Inggris yang sistem belajarnya ini tidak menggunakan buku, tapi langsung praktik berbicara. Sedangkan aktivitas mengisi seminar untuk satu bulan ini sedang saya kurangi, cukup 3-4 acara saja.

Kabarnya Edvan sedang menulis buku? Bagaimana proses penulisannya hingga saat ini?

Iya, saya sedang menulis buku motivasi untuk dinikmati anak muda. Sampai saat ini sedang proses penyelesaian. Insya Allah akan dilaunching akhir Maret 2013 ini.

Sejak 2012, Edvan dinobatkan sebagai Motivator Termuda se-Asia. Bagaimana perasaan Edvan saat menerima pengakuan itu?

Perasaan saya sangat bersyukur pastinya.

Pernahkah terbayang untuk menjadi Motivator Termuda se-Asia?

Tidak pernah terbayang, karena penghargaan atau gelar itu bukanlah tujuan utama saya. Tujuan utama saya hanya ingin menjadi manusia yang bermanfaat bagi banyak orang di sekitar saya. Penghargaan dan gelar yang saya terima ini hanyalah dampak dari manfaat yang saya berikan ke sekitar saya.

Sebenarnya cita-cita Edvan apa sih?

Cita-cita saya sebenarnya ingin menjadi dokter. Saat lulus SMA dua tahun lalu, saya pernah menjadi juara pertama try out masuk universitas se-Jawa Barat. Saya selalu memilih jurusan kedokteran dan kedokteran gigi, tapi selalu gagal. Tapi ketika saya mendaftar ke UIN Jakarta, saya memilih jurusan kedokteran dan komunikasi. Alhamdulillah, saya tidak lulus di kedokteran tapi lulus di komunikasi.

Mengapa Edvan memilih menjadi seorang motivator?

Melalui menjadi seorang pembicara saya merasa lebih mampu mewujudkan cita-cita saya; menjadi orang yang bermanfaat. Saya hanya punya sedikit ilmu, apa salahnya kalau yang sedikit ini saya manfaatkan dengan menyampaikannya pada banyak orang.

Dari mana Edvan belajar menjadi pembicara dan motivator?

Saya belajar menjadi pembicara dimulai saat saya mejadi ketua OSIS di SMP. Saat itu saya diundang secara gratis untuk mengikuti sebuah training. Training itu sangat bagus menurut saya, sampai saya yang saat itu masih remaja bisa mengerti berbagai teori yang disampaikan si pembicara. Mulai dari saat itu saya terinspirasi untuk seperti pembicara tersebut. Saya yang pada dasarnya pemalu dan pendiam, mulai berpikir kenapa beliau bisa seperti itu dan saya tidak bisa? Berangkat dari pengalaman inilah saya berusaha memberanikan diri untuk berbicara di depan orang banyak dan mulai mengisi acara di kalangan remaja.

Motivasi apa yang biasanya Edvan berikan?

Saya bisanya menyampaikan motivasi tentang entrepreneur dan pengembangan karakter  di perusahaan-perusahaan. Kalau di depan mahasiswa, saya selalu memberi motivasi tentang visi atau pematangan cita-cita pemuda masa kini. Selebihnya, saya mengisi seminar sesuai dengan tema yang disediakan klien. Berbeda juga kalau saya mengisi training untuk SMP atau SMA, biasanya itu motivasi untuk Ujian Nasional.

Bagaimana cara penyampaiannya jika peserta seminarnya anak-anak SMP dan SMA?

Saya memosisikan diri bukan sebagai tutor atau pembicara, melainkan sebagai teman sebaya mereka. Jadi, mereka tidak merasa digurui melainkan diajak sharing bersama.

Melihat kesibukan Edvan saat ini, bagaimana tanggapan keluarga Edvan?

Alhamdulillah, keluarga saya sangat mendukung apa yang saya lakukan. Sejak dulu kedua orang tua saya memang tidak pernah memaksa atau melarang saya untuk melakukan sesuatu. Mereka selalu berusaha mendukung saya untuk setiap aktivitas saya.

Selain sebagai pembicara, sekarang status Edvan juga sebagai mahasiswa. Bagaimana membagi waktu antara kuliah, menjadi pembicara, dan sambil berbisnis?

Sejak dulu saya berpikir tidak untuk bekerja, tapi untuk membuka lapangan pekerjaan. Oleh karena itu, tiga hal ini bukan hal yang sulit untuk dijalani. Saya kuliah seperti biasa, mengisi seminar dan bisnis juga bisa tetap berjalan karena banyak orang di belakang saya yang membantu saya. Istilahnya, saya jalan-jalan bisnis pun tetap jalan. Bagi saya, ketiganya itu penting dilakukan. Berbisnis, mencari uang itu penting, apalagi kalau uang yang kita hasilkan bisa memudahkan kita untuk menjadi manusia yang lebih bermanfaat lagi. Sekarang saya tidak perlu lagi memikirkan setelah lulus kuliah ingin bekerja apa dan di mana, karena sekarang saya sudah membuka lapangan pekerjaan dan berpenghasilan. Oleh karena itu kita harus pendai mengatur waktu, bukannya waktu yang mengatur kita.

Jika disuruh memilih kuliah, mengisi seminar, atau berbisnis, mana yang Edvan pilih?

Saya pilih ketiganya. Satu bulan itu 30 hari, kuliah di jurusan komunikasi seperti saya, sebulan kurang lebih hanya 16 hari. Empat belas hari sisanya bisa saya gunakan untuk hal lain, seperti mengisi acara dan berbisnis. Toh, dalam berbisnis saya tidak harus turun, karena banyak tangan-tangan di belakang saya yang mengurusnya.

Berbincang tentang Edvan, link-nya pasti tertuju pada motivator. Lalu, siapa motivator dalam hidup Edvan?

Motivator utama saya pastinya Nabi Muhammad saw. Motivator kedua bagi saya adalah ibunda dan ayah saya. Sisanya adalah sahabat-sahabat nabi yang sangat mengispirasi saya. Sebagai muslim, pasti idola saya Beliau dan sebagai seorang anak telah menjadi suatu keharusan bagi saya untuk mengidolakan ibunda saya. Di samping itu, saya rasa cita-cita saya sama seperti Nabi Muhammad, yaitu berdakwah sambil berdagang.

Setiap postingan Edvan di facebook hampir selalu diakhiri dengan kalimat “Semoga kebaikan ini terus mengalir untuk kita dan orang tua kita”, apakah alasan Edvan menulis kalimat tersebut?

Kalau berbicara tetang orang tua, terutama ibunda, berapapun kebaikan yang kita berikan kepada mereka, kita tetap punya hutang kepada mereka. Kebaikan kita kepada mereka tidak akan cukup untuk membalas kebaikannya. Saya merasa masih banyak yang harus saya lakukan untuk membalas semua kebaikan orang tua terutama ibunda saya. Saya selalu berdoa pada Allah, semoga pahala dan kebaikan yang saya lakukan juga mengalir untuk ibunda dan ayah saya.

Sudah lima tahun sejak Edvan menjadi motivator di usia 14 tahun, apa pencapaian yang Edvan harapkan dalam dunia kemotivatoran?

Visi kami ke depan adalah membangun bangsa dan agama dari sisi ekonomi. Caranya  dengan 100 perusahaan ini. Sampai sekarang sempat terbangun sembilan perusahaan yang bergerak di berbagai bidang, seperti kuliner dan rumah bersalin. Selain itu, misi kami untuk mencapai pembangunan bangsa dan agama melalui ekonomi adalah leaders create leaders, pemimpin menciptakan pemimpin yang bisa bermanfaat untuk sekitarnya. Suatu hari nanti, dengan 100 perusahaan yang digerakkan pemuda Indonesia ini saya yakin Indonesia akan menjadi negeri adidaya yang di dalamnya kita akan kesulitan mencar orang miskin, karena semuanya sudah menjadi kaya raya, kaya hati dan kaya harta.

Mengapa harus pemuda?

Karena saya yakin, pemuda adalah kunci perubahan. Jadi, saya ingin mengubah pemuda Indonesia dengan membangun entrepreneur berkarakter. Bukan kuliah untuk mencari pekerjaan melainkan kuliah sambil menciptakan lapangan pekerjaan.

Mengapa Edvan begitu menggencarkan bahwa pemuda, khususnya muslim harus bisa membangun perekonomian dengan ber-entrepreneur?

Saya berkaca pada Nabi Muhammad saw. Beliau seorang pemuda yang sukses dalam mempimpin dan berbisnis. Berangkat dari fakta sejarah ini saya berpikir bahwa muslim itu harus kaya untuk memudahkan kebermanfaatannya dan hartanya untuk diamalkan lagi di jalan Allah. Tidak ada agama yang melarang umatnya untuk kaya, demikian juga dengan Islam. Allah tidak pernah mengajarkan kita menjadi orang miskin, yang ada adalah berkecukupan. Sekarang, jika harta kita bisa memudahkan kita untuk beramal dan membangun Islam melalui perekonomian, kenapa tidak sekalian saja kaya.

Tapi bukankah seseorang yang sudah masuk ke “arena kaya raya dan sukses” kadang lupa dengan tujuan mulianya di awal? Menurut Edvan, apa yang keliru dengan hal ini?

Nah, inilah kesalahannya. Kekayaan ini memang akan menjerumuskan ke arah negatif jika tidak diimbangi dengan karakter yang kuat. Untuk itu saya juga menekankan perlunya karakter positif atau akhlak dalam entrepreneur. Oleh karena itu, mengapa saya menamakan manajemen kami dengan nama Entrepreneur Character Training yang tidak hanya membangun jiwa entrepreneur-nya, tetapi juga membangun akhlak di dalamnya. Itulah mengapa Nabi SAW menyarankan untuk membangun karakter atau akhlak sebelum membangun pasar. Itu semua agar pasar yang dibangun sesuai dengan nilai-nilai keislaman.

Terakhir, ada pesan yang ingin disampaikan untuk pembaca Muzakki?

Hidup kita ini terlalu singkat untuk menjadi orang luar biasa, maka jadilah orang yang luar biasa. Dan jadilah manusia yang bermanfaat untuk sekitar kita, karena seburuk-buruknya manusia itu adalah  tidak bermanfaat. Teruslah berkarya dan bermanfaat untuk sekitar kita, semoga usaha ini bisa membuat Nabi Muhammad saw tersenyum pada kita suatu hari nanti. Karena bangsa dan agama kita membutuhkan kita para pemuda. Jadi, mari kita sama-sama berkarya dengan tangan kecil kita untuk mengubah dunia.   (nir)

 

Nama                     : Edvan Muhammad Kautsar

T.T.L.                       : Tasikmalaya, 2 Juni 1993

Pendidikan            : S1 Komunikasi, UIN Jakarta

Akitivitas               : Motivator, Direktur Golden IDE, Bussiness Coach Bens Radio, Guest Lecture, Owner Kautsar Dimsum dan Synergy Engish Conversation

Twitter                   : @EdvanMKautsar

AddThis Social Bookmark Button

Yulia Astuti, Buka Akses Khusus Percantik Muslimah

FEBRUARI 2013

Assalamualaikum, Bu Yulia?

Waalaikumussalam.

Apa kabar nih?

Alhamdulillah baik.

Sebelum kami bertanya ke mana-mana, boleh tahukah, kenapa nama salonnya Moz5?

Moz5 dibaca mozlima kan? Alias muslimah, dikemas dengan menarik, supaya terkesan funky, maka penulisan menjadi Moz5. Unik. Tak ada yang salah dengan kata muslimah, tapi kalo kita bikin nama Muslimah Salon, kan biasa banget, generik banget. Coba kalau, Moz5 Salon Muslimah. Beda dong...

Ohh begitu. Memangnya awal ceritanya bagaimana?

Awalnya, salon ini dibuat untuk memenuhi keinginan sendiri, namun lama-kelamaan dibuat untuk membantu para muslimah lainnya yang ingin melakukan perawatan salon dan mempercantik penampilan diri.

Mengapa dikhususkan untuk muslimah?

Di Jakarta banyak terdapat salon, tapi bagaimana dengan salon khusus muslimah? Kan masih jarang. Nah, karena masih jarang, maka saya dan saudara saya mencoba membuka salon khusus muslimah saja.

Katanya sampai sekarang sudah banyak cabang-cabang salom muslimah ini? Sudah ada berapa banyak?

Hingga tahun 2012, tercatat ada 26 Moz5 di beberapa kota di Indonesia. Salon pertama yang didirikan adalah di bilangan Jalan Margonda, Depok. Ada pula Moz5 yang dibangun di daerah Radio Dalam, Jakarta Selatan, serta di Jalan Plumpang, Jakarta Utara.

Wah, banyak juga yah. Pasti sibuk sekali ya mengurus salon sebanyak itu. Oh iya, ada kesibukan lain selain di salon?

Ya, selain sedang sibuk-sibuknya mengurusi bisnis salon muslimah sambil mengurusi keluarga, saya turut serta aktif di organisasi WALI (Waralaba dan Lisensi Indonesia).

Di antara segudang kesibukan, apakah keluarga mendukung kegiatan-kegiatan Bu Yulia?

Di antara kesibukan yang menggunung, ternyata keluarga saya tetap mendukung penuh segala kesibukan saya. Di tengah rutinitas bisnis, saya masih bisa mengurus dan memanfaatkan waktu untuk keluarga.

Kalau harus memilih, apakah Anda akan memilih pekerjaan dibandingkan keluarga?

Bagi saya, keluarga dan bisnis merupakan hal yang penting, maka untuk memutuskan hal mana yang harus lebih didahulukan adalah dengan memegang skala prioritas.

Maksudnya bagaimana?

Keluarga menempati prioritas utama di atas bisnis, jadi saya selalu mempertimbangkan semua aktivitas bisnis terlebih dahulu. Misalnya, apakah mengganggu urusan rumah tangga atau tidak.

Tak banyak ibu yang bisa menyisihkan waktu yang cukup bagi anak-anak serta suaminya di rumah, namun setiap ibu pasti memiliki prinsip tersendiri dalam membesarkan anak-anaknya. Apa prinsip Ibu Yulia dalam membesarkan anak-anak dan mengurus keluarga?

“Kuantitas mendahului kualitas”, itulah prinsip pembagian waktu bagi keluarga saya.

Bisa Ibu jelaskan?

Maksudnya, waktu yang berkualitas terbentuk setelah melewati kuantitas waktu. Luangkan waktu sebanyak-banyaknya dengan anak-anak kita. Hal itu dimaksudkan untuk memberikan fondasi yang kuat, membentuk bounding atau ikatan yang kuat antara ibu dan anak. Dengan demikian, waktu yang berkualitas nantinya akan terbentuk.

Kebanyakan dari kita pasti telah mengetahui kalau kodrat seorang wanita adalah berada di rumah, mengurus rumah tangganya. Segala aktivitas wanita atau seorang ibu yang dilakukan di luar rumah haruslah atas seizin suaminya. Bagaimana dengan Anda?

Apa yang saya jalani sekarang berdasarkan prinsip saya bahwa ini tidak menyalahi kodrat. Selagi bisnis kita bisa mendukung keluarga kita, dan mendapatkan restu dari suami, kenapa tidak dijalankan?

Bagaimana dengan pengaturan waktunya?

Waktunya juga jauh lebih fleksibel.

Dalam mengurus keluarga, apakah ada inspirasi dari anggota keluarga atau dari orang tua?

Dari ibu, saya belajar memupuk rasa cinta yang tulus yang dapat memberikan keyakinan dan rasa kepercayaan diri yang tinggi pada anak.

Apa yang terjadi pada anak atas pelajaran tersebut?

Pada saat masa sulit pun, si anak bisa tetap mantap menghadapinya karena ada cinta ibunda yang selalu menemani.

Hal penting apa yang menunjang segala kesuksesan yang Anda raih?

Kunci sukses bagi saya adalah doa orang tua, restu suami, kerja keras, dan kerja cerdas.

Betul Bu, memang tak bisa dimungkiri, tanpa doa dari orang tua dan restu dari seorang suami, niscaya apa pun yang dilakukan oleh seorang wanita tak akan mendapatkan keberkahan dari Allah SWT. Lalu, apa pesan untuk para pembaca Muzakki?

Cobalah untuk mencari jawaban atas tiga pertanyaan ini: “Siapa saya? Mau ke mana saya nanti? Apa yang saya cari dalam kehidupan ini?”  (Ric/berbagai sumber)

AddThis Social Bookmark Button

Ustadz Felix Siauw, Jati Diri yang Benar Hanyalah Islam

JANUARI 2013

Menjadi muslim sejati, merupakan cita-cita kita semua sebagai pribadi yang menghendaki ridho Allah SWT agar kita menjadi umat terbaik di mata Allah SWT. Namun, tak mudah jalan menuju pencapaian sebagai muslim sejati. Ada banyak rintangan yang harus dihadapi dalam mencari jati diri sebagai pribadi muslim yang sesungguhnya.

Hal ini pula yang dialami oleh seorang Ustadz Felix Siauw. Ayah dari tiga anak ini mendapakan pengalaman hidup yang tak bisa dibilang mulus, namun semua itu membantu menguatkan dirinya dalam menjadi seorang muslim sejati.

Berikut adalah petikan wawancara Muzakki dengan Ustadz Felix Y. Siauw

Ustadz, bagaimana ceritanya bisa bertemu dengan Islam?

Awal mulanya ketika saya masih kelas 3 SMP, ketika saya beragama Katolik. Ketika itu saya banyak mendapatkan banyak hal yang tidak bersesuaian dengan akal, dan tak memuaskan akal. Sehingga singkat cerita saya keluar dari agama Katolik. Lalu saya mencari, agama mana yang benar, agama mana yang bagus. Setelah saya mencari selama lima tahun (sampai kuliah semester ketiga), alhamdulillah saya dapat Islam. Saya dapati Islam karena apa pun dalam Islam itu sesuai dengan akal manusia, sesuai dengan fitrah manusia, tidak ada yang bertentangan dengan akal manusia. Yang saya rasakan seperti itu.

Perubahannya jelas jauh. Karena akidah itu ibaratnya sebuah core dalam komputer, maka ketika seseorang berganti akidah, segalanya juga berubah. Yang paling nyata misalnya saya merasakan ketenangan luar biasa ketika saya memeluk agama Islam. Kita mendapatkan jawaban atas hidup, kita mendapatkan jabawan sebelum dan sesudah hidup. Dengan sendirinya kita bisa mantap menjalani hidup. Mau apa dalam hidup ini, kita sudah jelas.

Contoh konkretnya Islam memerintahan untuk tak boleh menguatkan suara lebih daripada suara orang tua. Ini kan perkara yang sangat luar biasa, yang kalau kita praktikkan pada orang tua, mereka akan menyadari perubahan yang bersifat konkret. Itu yang kelihatan, yang tidak kelihatan jauh lebih banyak lagi.

Apakah setelah mendapatkan jati diri baru ada tantangan dari luar?

Kalau bicara tentang tantangan, orang muslim atau orang bukan muslim punya tantangan. Tapi ketika kita kemudian menjadi Islam, kita jadi paham bahwa tantangan yang kita dapat ini tiada lain dan tiada bukan karena kita dimuliakan oleh Allah. Analoginya: pada prinsipnya, kapal itu dibuat untuk mengarungi lautan, ya kalau dia dibuat di dermaga lalu si kapal hanya diam di dermaga ya wajar dan aman, tapi kalau dia mengarungi lautan, dia jadi banyak tantangan, tapi justru tujuannya dia dibuat adalah untuk seperti itu.

Nah, sama seperti kita, kalau kita masuk Islam atau tak masuk Islam (agama apa pun) punya tantangan. Tapi ketika kita dalam Islam, tantangannya terarah, tantangannya memang untuk tujuan hidup kita. Jadi tak ada masalah.

Untuk proses belajarnya sendiri ketika awal mula mencari agama, arahannya dari mana?

Untuk mendapatkan Islam itu tak perlu belajar agama. Untuk mendapatkan Islam, cukup dengan berpikir. Kalau kita berpikir, kita pasti dapat Islam. Nah, setelah kita menjadi seorang muslim, bagaimana kita belajarnya? Harus seperti belajarnya orang-orang zaman dahulu. Kalau saya menyebutnya: sebuah kajian tersistematis, yang dilakukan secara berkala untuk memperdalam ilmu-ilmu Islam. Mulai dari tauhid, akidah, dakwah, dan syariah, dan sebagainya, itulah yang harus dipelajari.

Kesulitan yang pernah Ustadz alami?

Kalau tantangan mencari Islam, yang pertama adalah informasi. Saya tumbuh dan berkembang di komunitas yang bukan muslim, sehingga mencari informasi itu agak sulit. Maka salah satu hal yang membuat saya lebih mudah bisa mendapatkan Islam adalah ketika berkomunitas Islam, hidup dalam komunitas Islam.

Waktu itu di mana?

Di IPB saya mendapatkan Islam. SMA-nya di SMA Xaverius 1 Palembang. Waktu itu lingkungan saya 95 persen adalah bukan Islam.

Apakah setelah mendapatkan jatidiri sebagai seorang muslim, ada kesulitan dalam menyempurnakan separuh agama, dalam hal ini mendapatkan jodoh?

Saya masuk Islam pada tahun 2002, menikah tahun 2006. Jadi menikah empat tahun setelah masuk Islam. Awalnya memang susah, apalagi berbicara dengan orang tua yang memang bukan muslim, tapi alhamdulillah bapak saya juga menikah muda, jadi saya juga ada alasan untuk menikah muda. Jadi alhamdulillah itu sudah dilewati.

Ketika proses mencari “seseorang” itu apakah ada kesulitan?

Awalnya selalu ada yang mempertanyakan. Kenapa harus yang berkerudung? Kenapa harus yang muslim? Sementara saya adalah yang etnis Chinese, dan bapak-ibu saya tidak terbiasa melihat orang yang memakai jilbab. Nah, itu pertanyaan ada, dan kami jawab memang seperti itulah agama memerintahkan. Tatkala kita ingin menikah, maka menikah bukan hanya peraduan fisik, bukan hanya kepuasan badan, tapi menikah itu tujuannya lebih mulia daripada itu. Itulah proses pembentukan sebuah keluarga yang bisa menggenapkan ibadah. Dan kedua, bisa melanjutkan keturunan.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an bahwa untuk melanjutkan keturunan itu perlu juga melihat tanah yang ditanami, peribaratan wanita yang ditanami: bila tanahnya baik, tanamannya baik. Itu artinya kita harus mencari istri yang baik. Dan tidak mungkin istri itu baik kalau ia tidak taat pada Allah.

Bertemu di mana dengan calon istri waktu itu?

Kami bertemu di IPB (Institut Pertanian Bogor), hahaha, kami cinta lokasi.

Pernah ada kesulitan mengenai pembuatan akta kelahiran?

Ya, ada cerita ketika anak kedua saya lahir, saya mau mengurus pembuatan akta kelahiran. Ketika saya datangi pihak rumah sakit, ada biaya pembuatan akta kelahiran. Untuk warga negara Indonesia itu Rp 70.000, tapi kalau katurunan itu Rp 200.000. Saya mempertanyakan, kenapa berbeda sekali antara WNI keturunan dan WNI? Sekarang kan sudah tidak ada lagi pembedaan keturunan dan bukan keturunan (Chinese). Petugasnya bilang ‘memang seperti itu’. Dia mau mengurus pembuatan akta kelahiran kalau saya mau memberikan harga yang lebih. Itu sudah sebuah diskriminasi, padahal petugas itu memakai kerudung, muslim, dan sebagainya.

Maka ini menjadi sebuah pertanyaan. Yang saya katakan bahwa Indonesia tidak puas untuk dijajah. Bahwa pembedaan antara etnis, pembedaan antaragama, pembedaan antara orang yang keturunan atau yang bukan keturunan,  itu kan berlaku di zaman Belanda melalui hal yang namanya statsblaad (STBLD) maka setiap orang yang lahir dengan keadaan tertentu dia punya statsblaad sendiri. Ya dengan kata lain Indonesia masih ikut kepada orang-orang Belanda dalam pengurusan itu, maka pengurusan akta kelahiran saya agak dipersulit. Karena saya selalu ditanya: “Bapak keturunan ya?” Saya katakan, “Bukan, saya orang Indonesia!”

Dia tetap menyatakan, “Oh, bapak itu keturunan, jadi STBLD-nya berbeda.” Nah, ini jadi membuat saya mengatakan bahwa ini adalah hasil daripada asshobiyah, tidak mengakibatkan kecuali perpecahan di antara manusia, tidak bisa menyatukan apa pun kecuali menyatukan etnis, kaum, ataupun bangsa, tapi tak bisa menyatukan dalam bentuk yang lebih besar. Nah, penyatuan yang lebih besar ini hanya bisa dilakukan dalam Islam, bukan selain itu.

Upaya Anda sendiri untuk mendapatkan akta?

Yang saya garisbawahi dalam menulis itu adalah bahwa nasionalisme itu kemudian membedakan antara satu etnis dengan satu etnis yang lain. Tidak peduli apakah mereka muslim atau tidak, harusnya kan yang dilihat itu muslimnya, bukan etnisnya.

Firman Allah: “Yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertakwa.” Bukan yang paling kaya atau yang paling miskin, atau yang paling pribumi dan lain sebagainya. Itu yang perlu digarisbawahi dalam Islam, dan itu yang saya tujukan dalam menulis artikel tersebut.

Apa upaya Anda sebagai seorang ustaz dalam mengedukasi masyarakat untuk mendapatkan jati diri sorang muslim?

Ini merupakan tugas panjang, yang saya katakan mungkin tugas ini lebih besar daripada usia yang saya punya. Maka yang saya lakukan itu banyak, lewat Twitter, lewat Facebook, lewat media-media yang saya punya (termasuk dalam acara teleisi) untuk menyampaikan bahwa ini bukan ikatan yang benar, nasionalisme bukan ikatan yang benar, etnis itu juga bukan ikatan yang benar, kekauman juga bukan ikatan yang benar, tapi semua itu harus dibingkai dengan ukhuwah. Nah itulah yang saya lakukan, entah kapan berhasilnya, kita lihat saja nanti.

Kalau untuk acara di televisi yang akan Anda buat ini?

Acara ini merupakan yang kami gunakan untuk mengenalkan Islam, walaupun kita tahu masih banyak kekurangan. Saya juga berdiskusi dengan tim, mereka berbuat apa yang mereka mampu, semaksimal yang mereka bisa, untuk membuat acara ini syar’i. Walaupun tentu saja pasti akan ada banyak kritikan-kritikan, tapi kami harap bahwa ini menjadi sebuah pintu untuk mengubah acara, yang kita inginkan sebagai sebuah idealisme adalah mebuat suatu acara yang siap dikonsumsi oleh setiap warga dari umur yang tinggi sampai umur yang paling rendah.

Karena itulah kami harap acara ini bisa menjadi sebuah penyadaran. Di mana kami tidak dbatasi oleh ide-ide yang biasa muncul dari produser-produser yang lain seperti di televisi-televisi yang lain, kami berusaha untuk menampilkan Islam apa adanya. Mungkin kalau ke depan acara ini ditentang, ya wajar. Mungkin ada banyak pihak yang tidak setuju kalau Islam disampaikan secara total, disampaikan secara apa adanya.

Untuk segmen acara yang Anda pandu ini bagaimana?

Segmennya adalah umum. Makanya kami buat acara ini variety show yang kami gabung dengan musik, supaya segmen anak muda juga masuk. Segmen orang yang sudah pernah belajar Islam juga masuk, dan kami juga menggarap segmen terluar dari Islam, yang mungkin tidak pernah pergi ke masjid, yang tidak pernah pergi ke pengajian, itu kami ajak, kami sentuh untuk mendapatkan inspirasi dari acara ini. Selanjutnya kami harapkan mereka bisa mengkaji lebih lanjut.

Yang membedakan acara ini dengan talkshow yang lain?

Saya berharap bahwa tidak ada satu pun isu-isu yang tidak kami angkat sesuai dengan Islam. Kalau ada restriksi di beberapa stasiun televisi yang lain, kami berharap di sini tidak ada restriksi. Ya kalau ada restriksi, ya itulah risikonya. Apa pun yang terjadi ke depan, mudah-mudahan kita jadi orang yang tak takut menyampaikan Islam. Itulah yang kami harapkan dari acara ini.

Dalam keluarga, bagaimana kegiatan istri?

Istri saya seorang ibu rumah tangga penuh. Mengurus keluarga di rumah. Anak saya ada tiga. Istri full mengurus rumah tangga. Kalau dia keluar, itu atas izin saya. Dan memang diusahakan tidak mengganggu fungsi utama beliau yaitu ummu warobbatul bait.

Ada motivasi tersendiri dari istri?

Fungsi istri luar biasa. Kalau saya pulang, saya ketemu istri. Saya capek, saya ketemu istri. Istri jadi tempat curhat. Kalau yang seperti itu saja istri tidak memahami, saya tak tahu harus pergi ke mana lagi. Entah mencari siapa. Karena istri itu adalah orang yang paling dekat dan paling mengerti kita.

Makanya Allah mengatakan bahwa kita tak boleh telanjang pada siapa pun, kecuali pada istri. Itu adalah bukti bahwa istri menjadi satu dengan kita. Dia menjadi bagian dari kita. Kalau kemudian kita ambil sesuatu yang salah, atau ambil istri yang salah, berarti kita juga pasti salah. Makanya, di balik seorang laki-laki yang hebat, pasti ada wanita yang hebat juga.

Pendidikan seperti apa yang diterapkan pada anak-anak terkait pencarian jati diri?

Pendidikan saya sederhana, bahwa aturan Allah itu adalah mutlak. Dan kemudian saya ingin mereka memahami bahwa ketika Allah sudah berkehendak, ketika Allah telah memerintahkan sesuatu, maka tugas manusia bukan lagi mencari pembenaran atas aturan yang lain. Tapi itu sederhana saja, kita tinggal melaksanakan aturan itu. Itulah yang saya bentuk pada anak-anak, sebuah jiwa herois yang menyadarkan mereka apa tujuan mereka, yaitu berdakwah. Saya coba bentuk mereka dari awal agar poros hidupnya adalah berdakwah, sebagaimana bapaknya.

Apa pesan/ harapan pada masyarakat?

Sederhana, kita itu hancur dan terpuruk. Kita itu tidak menjadi muslim yang hebat yang sebagaimana dijanjikan oleh Allah dalam Al-Qur’an karena kita membuang Al-Qur’an. Atau kita cuma mengambil sebagian dari Al-Qur’an, kemudia membuang sebagian yang lain.

Allah SWT berfirman, Apakah kalian hendak mengambil sebagian dari kitab ini, lalu mencampakkan sebagian yang lain? Mengingkari yang lain? Membangkang terhadap sesuatu hal yang lain?

Nah, kemudian ketika melakukan hal yang seperti ini, melaksanakan secara parsial dan parsial, maka Allah tak akan memberikan bantuan yang bersifat total pada kita. Oleh karena itu masyarakat harus sadar bahwa kerusakan-kerusakan yang terjadi yang kita lihat itu adalah hasil tidak diterapkannya Islam. Maka solusi satu-satunya adalah “diterapkannya Islam”, tidak ada yang lain.  (ric)

 

Biodata

Nama                     : Felix Yanwar Siauw

Usia                         : 31 Januari 1984

Tempat Lahir         : Palembang

Aktivitas                 : Dakwah, Penulis Buku, Presenter Acara “Inspirasi Iman” di TVRI

Buku                       : Muhammad Al-Fatih 1453; Beyond the Inspiration; How to Master Your Habits

Facebook               : www.facebook.com/UstadzFelixSiauw

Website                 : www.felixsiauw.com

AddThis Social Bookmark Button

Ikhlas Berjuang karena Allah

DESEMBER 2012

Ustadz Ferry Nur

Orang yang berjuang akan melihat nikmat. Lalu ia bersyukur dan istiqomah. Dari sanalah, seseorang dapat menikmati perjuangan sebagai perjalanan hidup yang menyenangkan.

Sosoknya sudah dikenal masyarakat. Pribadinya yang sederhana dan berwibawa membuat ia banyak disegani semua kalangan. Kegiatannya saat ini aktif di Korps Mubaligh Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Dakwah (LPPD) Khairu Ummah di Jakarta. Saat ini ia juga menjabat sebagai Ketua KISPA (Komunitas Indonesia untuk Solidaritas Palestina).

AddThis Social Bookmark Button

Read more...

Muhammad Agus Syafii, Bahagia atas Kebahagiaan Anak-anak dan Orang Dewasa

NOPEMBER 2012

“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Maka itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.” Al Ma’un, 1-3.

Ada banyak cara bagi kita sebagai umat Islam dalam memuliakan anak yatim. Salah satu caranya adalah dengan mendirikan panti asuhan atau sebuah tempat belajar bagi mereka yang tidak mampu. Di Indonesia ada banyak panti asuhan atau rumah belajar yang mendidik anak didiknya dengan cara islami, namun berbeda dengan RUMAH AMALIA.

Rumah belajar yang digawangi oleh Muhammad Agus Syafi i ini memiliki sesuatu hal berbeda, yang mungkin bisa jadi pelopor lahirnya rumah belajar yang menaungi anak yatim, anak duafa, sekaligus orang tua dari anak yang jadi anak didik di tempat tersebut. Rumah belajar yang berlokasi di Ciledug, Tangerang ini hingga kini telah menampung lebih dari seratus anak didik.

Dengan dibantu oleh 15 orang sukarelawan yang mengajarkan berbagai ilmu, Ustadz Agus Syafi i membangun Rumah Amalia ini dengan penuh rasa cinta, dengan harapan agar anak-anak yatim dan duafa di sekitar tempat tinggalnya bisa mendapatkan kebahagiaan. Kisah dari Rumah Amalia diawali dengan kedatangan seorang ibu single parent yang menitipkan anaknya untuk diasuh Ustadz Agus Syafi i. Tanpa disangka, makin lama makin banyak anak yang “diasuh”.

Dan tak hanya eksis di dunia nyata, Rumah Amalia pun mulai dikenal masyarakat luas lewat fanpage “Mukjizat Sholat dan Doa” di dunia maya. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Apa sajakah yang ada di Rumah Amalia? Bagaimana hubungan Rumah Amalia dengan fanpage Mukjizat Sholat dan Doa di dunia maya? Inilah petikan wawancara Reporter MUZAKKI dengan Ustadz Muhammad Agus Syafi i di Rumah Amalia.

Rumah Amalia itu apa sih, Pak?

Rumah Amalia adalah rumah belajar anak yatim dan duafa.

Kegiatannya apa saja?

Mengaji, belajar beberapa ilmu pengetahuan, outbond, baksos, acara berbagi dengan yang lain, dan masih banyak lagi.

Yang mengelolanya?

Ada beberapa sukarelawan. Di sini hanya bantu mengajar di sela kesibukan, namanya juga sukarelawan. Kurang lebih ada 15 sukarelawan, bagi-bagi tugas. Anak-anak juga dilatih pegang tanggung jawab dan kepercayaan diri. Misalnya ada yang bertugas menerima tamu dan lain lain. Pengobatan gratis juga yang bekerja ya anak-anak. Yang cari pasien ya anak-anak juga. Saat baksos juga begitu. Anak-anak yang mengerjakan, pembina hanya mengarahkan saja. Tiga bulan sekali diadakan muhasabah di Puncak. Tergantung jadwal liburan anak-anak sih.

Apa bedanya dengan panti atau rumah belajar yang lain?

Kami berkonsentrasi pada pendampingan dan pemulihan. Pendampingan bagi anak yang kehilangan orang tua.

Pendampingan dan pemulihan seperti apa maksudnya?

Biasanya mereka yang kehilangan orang tua akan mengalami trauma. Ketika trauma, ada dua perasaan pada dirinya, yaitu perasaan kesendirian dan perasaan kesepian. Ketika dia sendirian dan kesepian, dia butuh seseorang yang fungsinya hanya satu, bukan menasihati, tapi menemani berkeluh kesah, menemani bermain. Sedangkan pendampingan itu untuk pemulihan. Pemulihan kepercayaan dirinya. Biasanya anak yang kehilangan ortu akan bertanya: “Aku ikut siapa?” Dan pada saat itu dia akan merasa kehilangan yang besar, sehingga jadi bahaya.

Kehilangan seperti apa yang bahaya itu?

Ada tiga jenis kehilangan: (1) Kehilangan benda, yang akan membuat seseorang jadi menangis, kecewa, atau marah. Dalam kasus ini bisa dibantu dalam sehari dua hari. (2) Kehilangan anggota keluarga, terlebih orang tua. Perasaan kehilangan pasti ada. Level kehilangan dimulai kekecewaan. Dia akan merasa Allah tak adil. Mengalami penolakan, lalu marah dan tak bisa menerima. Ini yang kami jaga agar anak tak depresi. Pernah ditemukan kasus anak 7 tahun ingin bunuh diri. Itu terjadi karena rasa putus asa, karena perasaan kesendirian dan kesepian akut. Yang paling berat adalah (3) kehilangan harapan. Bisa kehilangan hidupnya. Dia masih bisa hidup tapi tak tahu arah hidupnya.

Bagaimana kita tahu kalau seorang anak kehilangan harapan?

Salah satu cirinya adalah introvert. Anak itu menutup diri, banyak diam, tak mau bicara, hanya jawab “iya”, ketika main ia bilang “cape”. Kalau dia seperti itu, kami prioritaskan.

Bentuk pendampingannya seperti apa?

Dia dilibatkan dalam semua aktivitas, tidak dikhususkan. Anak berkegiatan melatih motorik dan memacu adrenalin.

Kenapa harus begitu?

Anak-anak yang secara psikologis sehat itu adalah anak ekstrovert. Anak di Rumah Amalia tak boleh membaca buku dalam hati. Dia harus bersuara keras. Dengan cara begitu, keluarlah ekspresi dalam diri. Kalau dalam 10 menit dia diam, dia harus diajak bermain, lari-lari, dan lainnya. Di Rumah Amalia tak ada yang diam, semua berisik. Itu yang kami dorong, untuk terlihat ekspresi menangis atau tertawanya.

Anak seperti apa yang rentan kehilangan harapan?

Biasanya mereka adalah anak anak korban perceraian. Artinya “anak yatim” dari korban perceraian lebih berbahaya. Dampak perceraian lebih dahsyat daripada tsunami. Anak korban perceraian pasti bingung akan ikut siapa, ayah atau ibu? Ini yang tak pernah diketahui masyarakat bahwa perceraian berdampak luar biasa bagi perkembangan anak.

Saya baca di blog Pak Ustadz dan di milis Mukjizat Sholat dan Doa itu ada beberapa kisah/curhatan masalah rumah tangga. Apa hubungannya dengan Rumah Amalia?

Rumah Amalia jadi rumah tempat berteduh siapa pun. Artinya kalau kami bantu anak-anaknya, kami pasti tak bisa berdiri sendiri. Kalau kami bantu anak yang terpuruk supaya tak nangis lagi, kami bisa. Tapi kalau di rumah ternyata si anak melihat ibunya menangis, ya si anak akan kembali terpuruk. Sehingga tugas kami adalah selain membantu anak-anak, tapi sekaligus membantu ibunya. Tanpa kami menguatkan ibunya, apa yang kami lakukan sia-sia. Salah satunya yaitu dengan mendengarkan si ibu curhat. Itulah kenapa datang ibu-ibu lain yang ingin curhat. Kebanyakan yang curhat itu ya mengungkapkan masalah yang terjadi di keluarganya. Nah, di akhir tulisan Bapak selalu ada kalimat seperti “Bagi Anda yang masih single...aminkan doa ini.”

Bisa Bapak jelaskan?

Hubungannya dengan yang masih single karena ada harapan bagi kita. Analoginya kalau kita ingin ajarkan anak-anak bahaya merokok, ya sebelum mereka mengerti tentang rokok. Begitu pula pada yang masih single, yang hendak menikah, kami ingatkan kembali apa tujuannya menikah. Setelah menikah, tolong dijaga pernikahan Anda karena ketika sudah menikah, hidup itu susah. Seburuk apa pun rumah tangga yang kita bangun, jangan pernah ada perceraian.

Jadi inti “usaha” Bapak?

Mencegah sesuatu sebelum terjadi (perceraian). Begitulah. Dan, bagimana caranya menghentikan laju perceraian.

Memangnya separah apa perceraian yang terjadi di lingkungan kita?

Berdasarkan data statistik ada 500 ribu perceraian per tahun di Jakarta. Per hari ada sekitar 150 perceraian. Lembaga perkawainan jadi tak sakral.

Ada kasus unik dalam perceraian yang Bapak tangani?

Pernah menemukan kasus pagi nikah sore cerai. Alasannya karena suami ngorok. Ada juga istri digugat cerai karena istri hanya bisa masak sayur bayam. Kan itu alasan sepele.

Lalu, cara Bapak mencegah itu bagaimana?

Itulah makanya di Rumah Amalia setiap tiga bulan sekali diadakan kegiatan di luar. Sambil mengingatkan pada generasi muda, bahwa selama kita punya iman, suami-istri tak mudah tergelincir. Untuk mengajarkan iman kokoh, kami tak bisa ajarkan pada istri yang sudah selingkuh, kami hanya bisa ajarkan pada orang atau pasangan yang belum menikah. Bagi yang sudah bercerai, kami back up anaknya agar pulih dari kesedihannya. Kalau untuk mencegah angka perceraian yaitu dengan mengampanyekan bagaimana simbol keluarga sakinah pada yang belum menikah. Untuk mendapatkan keluarga sakinah justru kami “amankan” yang belum menikah itu. Salah satu usahanya ya dengan memperbanyak sholat dan doa.

Itu awal mula blog dan fanpage Mukjizat Sholat dan Doa?

Iya.

Sudah berapa “penggemar” blog dan fanpage tersebut?

Saat ini sudah ada 2.350.000 penggemar Mukjuzat Sholat dan Doa. Dalam sehari ada 3.000-an “likes” fanpage Mukjizat Sholat dan Doa. Dibuat tahun 2011, belum genap dua tahun sudah hampir tiga juta penggemar. Artinya ada sesuatu di masyarakat.

Maksudnya?

Masyarakat perlu sesuatu yang sejuk dan tak menggurui. Beda ya dengan cara Pak Mario Teguh. Dakwah, di masyarakat lebih bisa diterima ketika sangat menyejukkan, itu yang dibutuhkan. Sekalipun hanya: “AMINKAN DOA INI.” Tidak susah.

Punya fans sebanyak itu, siapa yang kelola?

Tidak khusus kami kelola. Tak ada admin yang digaji. Mereka volunteer. Semua karena Allah. Di Rumah Amalia, jangan berpikir mengejar dunia, karena tak akan dapat apa-apa di sini. Di sini lihat anak-anak bahagia, bisa bikin senang. Kalau di dunia maya saya terlibat, tapi tak sepenuhnya.

Kendala di Rumah Amalia?

Masyarakat butuh banyak tempat, seperti Rumah Amalia, untuk curhat. Bayangkan berapa juta penduduk Jakarta yang beragama Islam? Ada berapa masjid yang punya tempat konseling? Itu hanya sedikit. Hanya masjid besar saja. Ruang untuk berteduh pun tak ada. Masjid pun terkadang tak ramah: DILARANG TIDUR DI DALAM MASJID. Pendampingan dilakukan supaya kita tidak lost control, karena orang sudah tidak manusiawi dalam kehidupan. Akar kemanusiaan kita sudah tercerabut.

Dilihat dari mana?

Mudah, lihat perilaku kita di jalan raya. Adakah yang tidak ngebut? Adakah yang tidak saling mendahului dan tak mempersilakan pejalan kaki yang menyeberang? Kita sudah “tidak sehat”.

Yang sehat itu yang seperti apa?

Dalam Islam, orang yang sehat secara psikologis adalah orang yang bergelimpangan kasih sayang. Itulah mengapa Rasulullah SAW mengajarkan kita agar memulai segala sesuatu dengan membaca Bismillah. Kenapa perlu sholat? Itu usaha kita untuk merendahkan diri di hadapan Allah, supaya kita diberi kasih dan sayang oleh Allah SWT, supaya hati kita tidak keras. Jika kita mampu mengobatinya, insya Allah berbuah kebaikan di dunia dan akhirat.

Apa harapan bapak?

Yang kami harapkan, makin banyak tempat seperti Rumah Amalia. Banyak tempat curhat layanan gratis agar banyak orang tua yang “diselamatkan”, sehingga anak-anaknya pun ikut selamat. (ric)

AddThis Social Bookmark Button