Wawancara Tokoh

More Articles...

Fahira Idris: Segera Itu Lebih Baik

AGUSTUS 2013

Berbuat baik janganlah ditunda-tunda

Berbuat baik janganlah ditunda-tunda

Memblanjai anak yatim menafkahi anak yatim

Menyantuni fakir miskin melindungi fakir miskin


Sembahyang fardu janganlah ditunda-tunda

Sembahyang fardu janganlah ditunda-tunda

Mulai subuh sampai dzuhur dari dzuhur sampai ashar

Dari ashar sampai maghrib dari maghrib sampai isya


Begitulah penggalan lirik lagu Jangan Ditunda-tunda dari Bimbo yang selalu mengingatkan kita agar senantiasa mengerjakan amal baik dengan segera tanpa ditunda. Menafkahi anak yatim dan fakir miskin, melakukan sholat wajib dengan segera, merupakan salah satu dari beberapa kewajiban kita sebagai muslim.

Tak hanya itu, di era teknologi canggih ini, beramal baik dengan segera bisa dilakukan melalui penggunaan gadget yang kita miliki, misalnya dengan mentransfer ilmu atau sekadar informasi yang akurat serta terpercaya.

Salah seorang tokoh masyarakat yang tengah getol dalam mengampanyekan kebaikan melalui tulisan singkat di dunia maya, khususnya Twitter, adalah Fahira Idris. Wanita kelahiran 20 Maret 1968 ini memang dikenal sebagai seorang entrepreneur, namun atas kegigihannya menyuarakan aspirasi yang menginspirasi, ibu dua anak ini mendapatkan penghargaan Twitter Terinspiratif Sejagat dalam polling The Most Inspiring Twitter tahun 2010, mengalahkan beberapa pesaing yang lebih terkenal dari negara lain.

Menurutnya, Twitter bisa lebih “segera” sampai informasinya dibanding portal berita online. Makanya, ia lebih memilih Twitter sebagai alat atau media “berdakwah” demi menyalurkan inspirasi-inspirasinya. Dan Muzakki berkesempatan mewawancarai wanita yang sudah resmi berhijab ini. Berikut adalah petikannya…

Assalamualaikum Ibu Fahira, apa kabar?

Waalaikumussalam…Alhamdulillah baik.

Apa saja nih kesibukan Ibu?

Saat ini saya sibuk usaha dan ada beberapa organisasi. Saya juga aktivis sosial kemasyarakatan.

Bagaimana kabar keluarga?

Alhamdulillah sehat. Anak saya, Nala baru naik kelas 3 SMA, adiknya, Nazira naik kelas dua SD.

Ibu sebagai tokoh yang “bersegera” dalam informasi dunia maya, mengapa memilih Twitter sebagai alat sebagai aktivis?

Saya dulu pengguna media sosial awalnya Facebook. Setelah 2010 kenal Twitter, saya beralih ke Twitter. Menurut saya merupakan media yang sangat cepat, bahkan kecepatan informasinya melebihi berita online. Kalau dulu kan kita baca berita dari berita online, kalau sekarang dalam hitungan detik kita dapat berita itu di Twitter.

Artinya segala informasi sekarang orang mem-posting lewat Twitter. Twitter itu saya akui memang lebih cepat. Kadang beritanya belum ada di TV, tapi kalau orangnya ada di situ (TKP, Red) dia akan nge-twitt tentang misalnya kebakaran. Berita itu langsung muncul di Twitter, lalu baru wartawan datang meliput. Jadi saya melihat memang perkembangan Twitter itu luat biasa. Informasi cepat, dan orang-orang sekarang nge-tren mencari info di Twitter.

Dalam rangka Idul Fitri, adakah pengalaman menarik terkait aktivitas ber-Twitter?

Dulu diawali Lebaran tahun 2010, waktu itu ada yang mention saya. Dia bilang, “Uni, ada pendeta yang ditusuk di Ciketing. Yang menusuk itu berjubah putih.” Kita berpikir, kalau berjubah putih itu pasti Islam kan. Saya pikir, ”gawat kalau kita tak berbuat sesuatu”, nanti pasti stigma Islam itu penuh dengan kekerasan, Islam itu keras dan anarkistis.

Waktu itu Lebaran hari ketiga saya beranikan diri pergi ke rumah sakit Mitra Keluarga, Bekasi. Lalu saya nge-twitt, “Teman-teman, saya tahu ini hari ketiga Lebaran, pasti tak ada pembantu, tak ada sopir, dan mungkin lagi ada di luar kota, tapi ini ada seorang pendeta yang kehilangan banyak darah, ditusuk oleh orang yang katanya berjubah putih. Oleh karena itu saya ajak teman-teman ketemu saya datang ke RS Mitra Keluarga, Bekasi untuk menyumbangkan darahnya.”

Di situ saya hanya berpikir, kalau Islam dituduh bertindak anarkistis terhadap seseorang apalagi terhadap yang lain agama, itu nanti isunya besar. Saya berusaha menghapus stigma itu dengan pergi ke sana mengumpulkan darah agar image Islam tak begitu. “Oke lah yang menusuk itu jubah putih, tapi yang datang memberi darah ke kamu juga jubah putih atau Islam juga.”

Kaget sekali karena yang kumpul di sana 30 orang kebanyakan muslim, padahal Lebaran hari ketiga. Orang Kristennya yang datang satu. Lalu kami kumpulkan darah dan diberikan pada keluarga pendeta itu.

Setelah peristiwa itu, apa yang terjadi?

Seiring waktu berjalan, saya jadi aktivis sosial itu biasanya berhubungan dengan bencana. Waktu gempa di Padang, saya bikin posko. Gempa di Yogya, saya bikin posko juga. Waktu Jakarta banjir bandang, saya bikin posko banjir. Terakhir waktu ada laporan dari follower saya. Hahaha, jadi saya tahu apa-apa itu dari laporan orang-orang. Tapi tetap dicek dulu. Laporan itu tentang maraknya penjualan minuman keras (miras) di Indonesia.

Saya tabayyun, bentuknya bikin survei, “Teman-teman, benarkah tingkat penjualan minuman beralkohol itu bebas sekali? Tolong twitt-pict gambar minuman di rak kalau yang ada di minimarket.” Saya tercengang, ternyata laporannya ratusan, dan gila-gilaan banget penjualan minuman beralkohol itu.

Lalu apa usaha Ibu menyikapi Hal itu?

Saya bikin Focus Group Discussion. Saya kumpulkan guru, orang tua murid, doter-dokter, psikolog. Yang saya kaget, datanglah Wakil Ketua MPR, Bapak Lukman Hakim Saifuddin. Kami ngobrol tentang situasi miras di Indonesia. Akhirnya saya menyimpulkan bahwa Indonesia ini adalah surganya miras. Dan saya harus melakukan sesuatu untuk itu, karena yang dihantam dari penjualan miras itu adalah anak bangsa. Anak bangsa itu dilumpuhkan, dibodohkan, digiring ke arah yang tak benar. Makanya saya bikin Gerakan Anti-miras.

Bagaimana reaksi masyarakat?

Ada pro dan kontra. Yang kontra itu orang yang hobi minum, produsennya, yang punya pabrik, dan yang jualan miras.

Seperti apa kontranya?

Ya di-bully di Twitter. Kata mereka, saya mengada-ada, terlalu berlebihan. Tapi alhamdulillah yang pro lebih banyak.

Fokus Ibu ke mana?

Yayasan Anak Bangsa Mandiri dan Berdaya itu fokus hanya memerhatikan hal-hal buruk yang bisa merusak anak bangsa di bawah 21 tahun. Itu yayasannya, tapi kalau gerakannya ya pasti kena semua. Cuma niatnya untuk fokus melindungi anak bangsa dari hal-hal buruk.

Menurut Ibu, apa yang harus segera dibenahi pada bangsa ini?

Menurut saya yang paling penting adalah kesadaran pemimpinnya, misalnya presiden dan menteri-menterinya, anggota dewan legislatif harus berubah ke arah solutif, karena saat ini banyak dari beberapa kejadian, saya tidak melihat ada upaya cepat untuk mencari solusi. Contoh, ada kasus korupsi. Solusinya apa sih? Koruptornya tak ditangkap-ditangkap, bertele-tele, lama menyelesaikan kasus.

Contoh lain, per hari jatuh korban 50 anak akibat pembunuhan, tawuran, KDRT, dan pemerkosaan. Rata-rata setahun jatuh korban jiwa gara-gara miras adalah 19 ribu. Tapi saya sudah gaungkan cukup kencang di media. Saya tidak melihat ada upaya pemerintah. Malah upaya itu datang dari ormas Islam FPI dengan cerdasnya membuat yudicial review atas Keppres No 3 Tahun 97, akibatnya, gara-gara FPI menang di tingkat hukum, Keppres No 3 Tahun 97 itu dihapuskan, karena selama itu ada, tidak pernah memberikan perlindungan pada masyarakat atas miras ini.

Apa yang salah dalam pendidikan kita?

Saya rasa orang Indonesia orang tuanya terlalu sibuk. Kalau zaman dahulu saya melihat faktor ibu harus kuat di rumah. Saya tak mengatakan bahwa wanita tak boleh bekerja, wanita boleh bekerja tapi maksimalkan kalau bisa bisnis di rumah. Kalau punya bisnis paling tidak tak meninggalkan anak-anaknya. Banyak orang tua yang terlalu menyerahkan pendidikan anak pada sekolah, pada pembantu, hasilnya anak-anak tak mendapat nilai kehidupan yang baik, tak punya nilai budi luhur, tak punya nilai agama yang baik dan benar.

Apa yang Ibu harapkan dalam pendidikan?

Pertama, pendidikan agama itu harus sejak dini. Kedua, pendidikan akhlak. Saya berpendapat daripada juara kelas tapi akhlaknya tak benar, mendingan punya anak yang akhlaknya benar walau tingkat kecerdasannya tak tinggi. Akhlak sangat penting. Banyak orang yang pintar tapi tak berakhlak jadi berbuat kezaliman. Tapi saya melihat bila anak tumbuh dengan akhlak baik, insyaAllah kebaikan akan mengikuti mereka, dan mereka tidak akan berbuat zalim pada orang lain.

Jangan mengagungkan nilai akademik, jangan terlalu dikejar. Yang penting akhlaknya. Menurut saya nomor satu, saat ini pengajaran akhlak orang tua pada anak itu kurang. Apalagi di sekolah. Barulah yang ketiga pendidikan formil.

Bagaimana Ibu dan Bapak menerapkan ”kesegeraan” di rumah?

Dalam ”bersegera” itu kami terapkan dalam ibadah (sholat), membiasakan dari azan, wajib sholat berjamaah.

Kalau masalah sosial, misal waktu Jakarta banjir, saya segera buka posko melibatkan anak-anak saya untuk membantu mengumpulkan pakaian-pakaian mereka yang layak pakai untuk disumbangkan. Mengajarkan anak itu kalau mengandalkan buku pelajaran di sekolah takkan cukup, tanpa praktik itu tak cukup. Praktiknya adalah bagaimana kita sebagai orang tua mampu bersentuhan dengan kehidupan sehari-hari dalam bermasyarakat. Kalau ada bencana, anak diberi bingkisan, kantong, alamatnya tulis sendiri, agar anak berempati. Kalau anak ada kegiatan sosial dari sekolah itu jangan dilarang. Di situ mereka akan mendapatkan momennya.

Apakah Ibu dan Bapak menerapkan reward dan punishment?

Reward dan punishment itu harus, tapi punishment-nya jangan berbentuk kekerasan. Contoh, waktu anak saya nilainya jelek, saya sita BB-nya. Saya larang dia pegang BB dari Senin sampai Jumat. BB-nya saya simpan di kamar saya, saya berikan kembali akhir pekan. Awalnya dia berontak, tapi ya dia harus menerima itu karena nilai mata pelajarannya turun. Kalau sudah naik lagi, saya kembalikan.

Anak saya yang kecil jika susah makan, saya akan bilang, nanti kita tak usah jalan-jalan deh. Hahaha, karena anak saya yang kecil suka jalan-jalan. Dia tidak akan mendapatkan kesenangannya kalau dia tidak dispilin terhadap tugas-tugasnya. Kalau reward-nya berupa hadiah, anak kecil masih materialistis. Misalnya kalau naik kelas diberi sepeda.

Apa cita-cita Ibu pada Anak?

Saya ingin anak saya berakhlak baik. Tak penting dia jadi apa, jadi tukang jahit atau presiden, akhlak nomor satu. Saya prihatin dengan anak-anak saat ini yang akhlaknya kurang baik. Apalagi yang paling lucu adalah di China, baru-baru ini meresmikan Undang-undang Menengok Orang Tua. Artinya anak China durhaka semua, tak suka jenguk orang tuanya. Ada yang disimpan di kandang babi. Karena komunis, jadi memikirkan diri sendiri, tak ada koneksi dengan orang tua. Anak-anak kita jangan sampai seperti itu.

Plus bermanfaat bagi orang lain. Jadi walau cuma mantri tapi kalau dia bermanfaat bagi orang lain ya bagus. Saya tak mau anak saya bercita cita terlalu tinggi karena saya tak mau kecewa. Saya bebaskan mereka jadi apa saja.

Apa harapan Ibu pada anak bangsa dan pemerintah?

Harapan saya pada anak bangsa adalah agar mereka mampu melindungi dirinya dari hal-hal buruk, tentu saja melindungi keluarga juga penting. Saat ini banyak hal mengancam anak bangsa, misal miras, narkoba, rokok, pornografi, game online, LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender), serta kekerasan. Bagaimana mereka bisa dapatkan pendidikan yang benar kalau mereka tidak melindungi diri dari hal-hal itu. Anak bangsa harus tetap bercita-cita tinggi demi mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya. Jangan lupa dengan membentengi diri dengan agama dan akhlak yang baik. Harapan saya, pemerintah harusnya dapat melindungi warganya.

Baiklah, terima kasih atas waktunya, Ibu Fahira. Wassalamualaikum…

Sama-sama. Waalaikumussalam…


Biodata

Nama : Fahira Fahmi Idris

Lahir : 20 Maret 1968

Pendidikan : Universitas Padjadjaran-Bandung, The London School of Flowers-Inggris, Universitas Indonesia

Penghargaan : The Most Inspiring Twitter, Wanita Ispiratif dan Informatif di Twitter (Fimela.com)

Keluarga : Aldwin Rahadian (suami), Nabila Zahra dan Nazira Auliya (anak)

Aktivitas : Ketua Gerakan Anti-miras, Koordinator Posko Bantu Banjir Jakarta, Ketua Yayasan Selamatkan Anak Bangsa, Pendiri dan Ketua Umum Gema Damai

AddThis Social Bookmark Button

Anton Apriyantono: Negara Berkah dengan Makanan Halal

JULI 2013

Hai sekalian manusia! Makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS Al-Baqoroh, 168)

Allah SWT telah menyediakan makanan halal di muka bumi ini bagi kita. Apabila telah disediakan makanan halal, mengapa pula kita mau mengonsumsi yang haram atau tidak jelas status kehalalannya? Jika kita berusaha mendapatkan yang halal, niscaya keberkahan dalam hidup akan kita dapatkan karena itu nilainya sama dengan berjhad.

Itulah yang diungkapkan seorang tokoh Indonesia yang hingga kini masih istiqomah dalam mendalami masalah pangan serta makanan halal, Anton Apriyantono. Beliau merupakan seorang Menteri Pertanian pada masa Kabinet Indonesia Bersatu, kurun 2004-2009.

Hingga kini Menteri Pertanian RI ke-24 ini tetap memberi perhatian pada dunia perhalalan makanan di Indonesia. Beliau juga yang mendirikan Komunitas Halal-baik-Enak yang concern pada program edukasi dan penyuluhan tentang makanan halal di negeri ini. Muzakki berkesempatan mewawancarainya, dan berikut ini adalah petikannya…

Assalamualaikum Pak Anton, apa kabar? Apa kesibukan Bapak belakangan ini?

Waalaikumussalam… Banyak aktivitas saya. Jadi Komisaris di PT Pertani, Komisaris Utama di Tingkat Pilar Sejahtera, dosen tidak tetap di Universitas Bakrie, mengajar di IPB, di UIN juga.

Wah banyak juga yah. Begini Pak, Bapak kan dari dulu berkecimpung di dunia yang berhubungan dengan pangan/makanan, nah karena di Indonesia mayoritas adalah umat Islam, bagaimanakah kondisi kehalalan makanan yang ada di negara kita? Kita semua tahu bahwa umat Muslim harus mengonsumsi makanan halal.

Sangat menyedihkan kondisinya. Mayoritas Muslim tapi dalam keseharian tidak ada jaminan kehalalan makanan kecuali yang sudah mendapatkan sertifikat halal. Harusnya kalau mayoritas muslim ya by law, harusnya menyediakan yang halal, tapi ternyata tidak. Coba masuk ke restoran-restoran, kemungkinan tidak halalnya besar. Alhamdulillah sekarang produk-produk dalam kemasan sudah banyak dapatkan sertifikat halal, tapi coba minuman keras ada di mana-mana. Masuk hotel ketemu minuman keras, masuk restoran ketemu minuman keras. Bagaimana bangsa ini akan mendapat keberkahan ketika dalam sebuah hadis dikatakan bahawa tidak boleh kita masuk dalam suatu majelis yang ada minuman keras disajikan.

Nah ini minuman keras ada di mana-mana. Jadi ya jangan heran kalau bangsa ini ribut melulu, dan dampaknya bisa kelihatan sekarang. Orang yang tawuran, orang yang macam-macam itu banyak karena minuman keras. Juga narkoba.

Bagaimana kondisi kesadaran masyarakat dalam mencari dan mengonsumsi makanan halal?

Sudah ada peningkatan, tapi juga masih banyak yang belum sadar. Karena berasumsi seakan-akan mayoritas Muslim kemudian semua halal saja. Masalah kehalalan di dunia modern ini menjadi sesuatu yang tak mudah. Lain seperti dulu ketika orang masih sedikit yang memproduksi, tapi sekarang ini makanan bisa dari mana-mana. Itu yang jadi persoalan, sehingga perlu upaya-upaya penyadaran bahwa: pertama mengonsumsi yang halal itu penting dan harus. Yang kedua kita harus bisa memilih karena tidak ada kewajiban mereka (produsen) menyajikan yang halal. Jadi kita yang berkewajiban memilih yang halal.

Kondisi penyedia makanan itu sendiri bagaimana?

Persoalannya masih banyak yang belum paham bahwa masalah halal-haram itu “bukan babi” saja, tapi juga yang namanya khamr itu tidak boleh digunakan. Sering kita temui Ang Ciu yang sesungguhnya masuk kelompok khamr, itu digunakan dalam makanan. Itu karena ketidaktahuan. Makanya harus terus-menerus memberikan penyadaran dan pengetahuan kepada masyarakat. Nah itu baru salah satu.

Bagaimana sikap pemerintah dalam memfasilitasi pengadaan atau penjaminan makanan halal?

Bisa dikatakan masih kurang, karena dalam pengaturannya tidak ada kewajiban menyajikan yang halal. Tidak ada kewajiban untuk memisahkan antara yang halal dan yang tidak. Walau demikian, alhamdulillah ada upaya-upaya untuk lebih menjamin kehalalan bagi konsumen muslim, yaitu sedang digodoknya RUU jaminan produk halal.

Sudah sampai mana penggodokan RUU tersebut? Kenapa lama?

Tak selesai-selesai sudah bertahun-tahun. Ya karena tarik-menarik kepentingan.

Kira-kira apa kesulitan yang dihadapi saat nanti RUU tersebut berlaku menjadi UU?

Tidak ada kesulitan sama sekali, tergantung niatnya saja mau seperti apa. Sama sekali tidak sulit. Buktinya mereka yang selama ini ber-voluntary menyertifikasi halal produk-produknya toh bisa. Padahal voluntary, bukan kewajiban. Jadi tidak ada alasan untuk mengatakan sulit.

Benarkah untuk menyertifikasi itu mahal harganya?

Tidak, buktinya untuk mendapatkan sertifikasi yang lain kok mau dan bisa. Ada HCCP, ada JMP, ada sertifikat ISO. Itu lebih mahal.

Dari MUI-nya sendiri adakah yang menyulitkan?

Sejauh yang saya tahu, tidak ada. Justru kebalikannya, terlalu baik menurut saya. Tapi untuk tahal awal memang harus seperti itu, dan mungkin untuk sekarang sudah saatnya harus dipisahkan antara lembaga konsultasi dengan lembaga sertifikasi. Ini lembaga sertifikasi sering juga meng-guide. Tujuannya bagus, tapi suatu saat nanti ini akan jadi conflict of interest. Nantinya harus dipisahkan. Tapi karena ini masih tahap awal, ya kita bisa memaklumi.

Sekarang kan hanya MUI saja yang punya otoritas memberikan sertifikat halal. Ada kemungkinan pihak swasta yang mengeluarkannya?

Lembaga pemeriksa boleh siapa saja, asal diakreditasi. Tapi sertifikat halalnya, fatwanya itu seharusnya keluar dari satu pintu saja, MUI saja. Supaya tidak kacau. Jadi, sebagai lembaga pemeriksa siapa saja yang terakreditasi ada syaratnya tentunya yang harus dipenuhi, tapi hasilnya harus diserahkan kepada MUI.

Apakah RUU/UU tersebut akan menjangkau produsen makanan tingkat kaki lima (tak hanya gerai makanan besar)?

Sangat bisa. Bedanya untuk yang kecil-kecil itu harus dibina. Inilah yang sesungguhnya tugas utama dari pemerintah, khususnya Kementerian Agama dan kementerian-kementerian terkait, seperti Kementerian Perindustrian. Tapi jangan pemerintah yang melakukan sertifikasi, karena pemerintah tugasnya membuat regulasi, jangan regulator kemudian bertindak juga sebagai eksekutor, nanti ada conflict of interest lagi.

Apakah peran MUI sebagai pemegang otoritas penjamin kehalalan suatu produk itu sudah maksimal?

MUI itu tidak menjamin sebetulnya, tetapi MUI membantu memberikan kepastian kepada konsumen Muslim melalui proses sertifikasi. Itulah sebetulnya yang dilakukan MUI. Sejauh yang MUI mampu, itulah yang optimal bisa dikerjakan oleh MUI. Kita sudah alhamdulillah bersyukur sekali, tapi tentunya perlu peningkatan-peningkatan ke depannya.

Menurut Bapak, hal apa yang belum MUI lakukan terkait tugasnya dalam hal ini?

Yang belum maksimal itu sistemnya sendiri. Jadi sistemnya harus dikembangkan lebih lanjut. Sebagai tahap awal oke, tapi semuanya harus ditingkatkan lagi supaya ada sistem yang menganut trias politica, artinya harus ada yang mengawasi. Jadi sistem sertifikasi yang sudah berlaku secara umum itu, pertama harus ada lembaga akreditasi. Lembaga akreditasi ini akan mensertifikasi lembaga-lembaga pemeriksa. Nah ini yang belum ada. Kemudian lembaga pemeriksa yang ada saat ini ya harus diakreditasi. Karena bukan hanya oleh pusat, tapi daerah. Nah ini masing-masing independen semua ini. Jadi kalau tak segera ditingkatkan, khawatir suatu saat akan ada persoalan yang sepertinya tak perlu terjadi.

Di keluarga Bapak sendiri, bagaimana Bapak mendidik anggota keluarga agar sadar tentang makanan halal?

Ya terus-menerus diingatkan sambil ditingkatkan pengetahuannya. Kalau ke supermarket: “Perhatikan tandanya!”. Setelah diperiksa tidak ada tandanya (tanda halal), ya jangan diambil. Atau kalau sedang pergi ke mana, sebaiknya pilih tempat yang seperti ini atau seperti ini, tempat yang sudah jelas halalnya.

Pernah mendapatkan pengalaman menarik dalam hal mendapatkan makanan halal di dalam atau luar negeri?

Yang terjadi justru kesimpulan saya kalau kita mencari makanan yang halal, pertama pasti akan ditunjukkan. Yang kedua ujung-ujungnya mendapatkan yang enak. Ada banyak cerita…

Kalau di negeri jiran bagaimana Pak, katanya lebih baik?

Malaysia tidak juga, hampir sama dengan kita. Singapura-lah yang lebih jelas, karena kita bisa lihat tandanya, tanda halal. Kalau di Malaysia ya seperti di kita, sebagian tidak ada tandanya. Kita berasumsi saja bahwa ini adalah halal, padahal belum tentu.

Oh iya, menjelang dan pas bulan Puasa pasti banyak pedagang makanan dadakan Pak, Bapak atau keluarga pernah membeli makanan di pinggir jalan? Tidak khawatir ada zat yang diindikasikan belum halal?

Kami suka beli. Ya pilih-pilih. Tidak sering, tapi sesekali. Kalau kita ragu ya tanya-tanya. Bahkan bukan hanya tanya, kami periksa. Suatu saat di Yogyakarta, restoran-restoran sudah tutup, terpaksa kami harus makan di kaki lima, ketika kami tanya “Pakai Ang Ciu?” jawabnya “Tidak, Pak.” Ternyata begitu dilihat, ada botol Ang Ciu.

Berhakkah kita masuk ke dapurnya gerai makanan atau restoran?

Ya tergantung caranya kita, pintar-pintarnya kita. Nah makanya diperlukan suatu peraturan yang mengharuskan halal, kalau tidak ya begini: nanti masing-masing orang atau komunitas akan mempertanyakan terus. Tapi di sisi lain ada bagusnya, supaya setiap pengusaha sadar bahwa dia harus menyediakan makanan halal dan diverifikasi kehalalannya oleh pihak ketiga, melalui proses sertifikasi

Apa harapan Bapak terhadap pemerintah?

Ya nomor satu, undang-undang harus mewajibkan semua makanan, minuman, obat-obatan, kosmetika, yang beredar di Indonesia itu harus halal, kecuali yang ditujukan bagi nonmuslim. Karena mayoritas Muslim ya dengan sendirinya harus halal, kalau tidak halal ya harus jelas antara yang halal dan yang tidak. Khusus untuk minuman keras perdarannya betul-betul harus terbatas. Tidak boleh terbuka seperti sekarang ini, bisa dijual di mana saja, di warung, di retailer. Harus keras memerangi khamr.

Apa pesan Bapak bagi masyarakat umum dan produsen makanan?

Ya kita harapkan semakin sadar halal dan berupaya menyediakan yang halal, karena dalam suatu hadis Rasulullah menjelaskan bahwa mencari yang halal itu nilainya sama dengan jihad, memang butuh perjuangan. Tapi jangan lupa nilai perjuangannya seperti jihad. Jadi itu harus kita lakukan dan jangan ragu-ragu. (Ric)

Biodata:

Nama : Anton Apriyantono

Lahir : Serang, Banten, 5 Oktober 1959

Pendidikan : S3 Jurusan Kimia Pangan, Universitas Reading, Inggris

Karier : Menteri Pertanian RI Kabinet Indonesia Bersatu (2004-2009), Staf Pengajar di Institut Pertanian Bogor, Universitas Bakrie, dan Universitas Islam Negeri, Komisaris Utama PT Pertani.

Penghargaan : Bintang Medali Mahaputera Adipradana (2010)

AddThis Social Bookmark Button

Ustadz M. Anwar Sani: Cetak Penghafal Qur’an dan Galakkan Sedekah

JUNI 2013

Sebenarnya, (Al- Qur’an) itu adalah ayat-ayat yang jelas di dalam dada orang-orang yang berilmu. Hanya orang-orang yang zalim yang mengingkarinya.” (QS. Al-Ankabut: 49)

Allah telah memerintahkan kita untuk mempelajari kitab-kitab yang telah diturunkanNya. Terlebih bagi umat muslim yang wajib membaca, menghayati, serta mengamalkan kitab suci yang turun melalui Nabi Muhammad SAW itu, menjadi kewajiban tersendiri sebagai umat yang berilmu.

Di zaman yang semakin modern ini mungkin ada yang masih saja menganggap bahwa Al-Qur’an itu merupakan hal yang tidak penting, namun sesungguhnya ia tidak mengetahui bahwa dengan membaca Al-Qur’an, kita akan mendapatkan syafaat di hari kiamat. Hal ini sesuai dengan hadis: “Bacalah Al-Qur’an! Sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat untuk memberi syafaat kepada pembacanya,” HR Muslim.

Seiring dengan perkembangan zaman, teknologi pun semakin berkembang pula. Hal inilah yang harus dimanfaatkan oleh kita agar tidak tertinggal arus globalisasi sekaligus tidak lupa pula pada kewajiban mempelajari Al-Qur’an. Teknologi yang canggih memungkinkan kita untuk bisa membaca Al-Qur’an di mana pun, mempelajarinya kapan pun, serta menghafalkannya dengan cara apa pun.

Syukur alhamdulillah… Negeri kita memiliki banyak tokoh yang tak pelak selalu mengajarkan kita pada kebaikan, khususnya dalam bidang Al-Qur’an. Salah satunya adalah Ustadz M. Anwar Sani yang kini tengah sibuk mengawal dunia penghafal Al-Qur’an, dan terus mengembangkan mimpi agar suatu saat nanti para pemimpin negara di dunia ini adalah seorang penghafal Al-Qur’an.

Sambil terus memfasilitasi tumbuhnya generasi penghafal Al-Qur’an, Ustadz M. Anwar Sani pun tak lupa mengajarkan pada masyarakat tentang pentingnya bersedekah bagi kemaslahatan umat, terlebih untuk kemaslahatan diri kita selama hidup di dunia dan memperbanyak bekal untuk di akhirat nanti.

Berikut ini adalah petikan wawancara Muzakki dengan Ustadz M. Anwar Sani

Assalamu’alaikum, apa kabar Ustadz?

Wa’alaikumussalam, alhamdulillah kabar baiiiiiiiiikkk…

Wah, panjang sekali “baik”nya…

Saya kalau ditanya apa kabar, baik itu lewat BB, lewat SMS, selalu jawab: “Alhamdulillah kabarnya baiiiiiiiiiikkk…” i-nya panjang. Itu menunjukkan kesyukuran kita lebih dan kita merasa bersyukur yang sangat pada Allah SWT.

Apa saja aktivias Ustadz belakangan ini?

Saya sekarang jadi ketua Yayasan Daarul Qur’an Nusantara yang membawahi lembaga sedekahnya Daarul Qur’an. Di Pesantren Daarul Qur’an bersama Ustadz Yusuf Mansur, saya diamanahkan menjadi Pembina Pesantren Daarul Qur’an yang secara legalitasnya Yayasan Daarul Qur’an Indonesia. Di sini ada dua yayasan: Yayasan Daarul Qur’an Nusantara yang membawahi manajemen sedekah, dan Yayasan Daarul Qur’an Indonesia yang membawahi pendidikan, kepesantrenan, dan sekolah.

Bagaimana dengan keusahaannya?

Tugas yang lain, mengurus Travel Daarul Qur’an, diamanahkan jadi komisaris. Daarul Qur’an banyak sekali lembaga manajemennya, ada Daqu (Daarul Qur’an) tv, radio, ada usaha travel, insyaAllah pada 5Juni nanti launching perusahaan barunya Daqu yaitu PT Daqu Steel Indonesia yang akan memproduksi kebutuhan-kebutuhan baja. Saat ini hampir semua pemanfaatan rangka dan atap itu dari baja, dan pasar di situ sedang bagus. Ada pengusaha baja yang memfasilitasi kami, lalu kami membuat perusahaan itu.

Apa alasan PPPA Daarul Qur’an mengorientasikan pada anak-anak hafiz atau penghafal Al-Qur’an?

Pertama bahwa lembaga yang bergerak di situ belum banyak. Ada pesantren-pesantren, tapi adanya di Jawa Tengah, Jawa Timur, ada di daerah lain tapi belum jadi gerakan massal. Di sana kalau ada yang mau jadi penghafal Qur’an ya nyantri di situ. Memang itu bagus luar biasa, tapi setelah itu mereka akan bergerak santrinya, kalau sudah lulus, bisa buka pesantren. Ustadz Yusuf Mansur punya mimpi yang lebih besar, punya dream melalui Daarul Qur’an, yaitu suatu saat nanti pemimpin-pemimpin Indonesia yang berposisi srategis itu akan dipegang oleh orang-orang yang hafiz Qur’an. Kalau dulu berpikir orang itu aneh, “dalam kondisi sekarang ini ko mau-maunya menghafalkan Qur’an”, nah sekarang ini menjadikan menghafal Qur’an itu sebagai life style. Jadi asyik aja gitu. Dulu baca Qur’an di tempat umum malu, Sekarang buat acara di Gelora Bung Karno (untuk baca Qur’an). Itu kan buat main bola, kita bersama-sama mempunyai semangat belajar dan menghafal quran.

Apa saja yang dibuat oleh Ustadz dan kawan-kawan?

Banyak hal yang seharusnya dilakukan, selain lembaga Qur’an belum banyak, maka Daarul Qur’an membangun pesantren-pesantren seperti di Ketapang, Semarang, Cikarang, Lampung, Ambon, dan lainnya.

Saat pesantren ini kami bangun, kami buat program yang lain. Kami buat orang terdorong untuk membuat rumah tahfiz. Kalau mau bikin pesantren kan harus siapkan lahan yang besar, harus ada asrama, kelasnya, masjidnya. Namun kalau rumah tahfiz, rumah kecil saja sudah bisa menjadi pesantren, tapi pesantren mini. Nah sekarang jumlahnya insyaAllah sudah lebih dari 3.000 yang tersebar di seluruh Indonesia. Ini juga terbukti dari acara di Gelora Bung Karno yang datang segitu banyak. Bisa jadi jumlahnya lebih karena rumah tahfiz itu kan gerakan, banyak juga yang tidak menginduk ke Daarul Qur’an. Ini gerakan siapa pun. Siapa saja boleh mendirikan rumah ttahfiz. Dengan semangat, orang-orang yang baik, aktivis maupun orang mampu, pokonya semua bisa membantu rumah tahfiz. Tapi intinya sama, belajar Qur’an dan menghafal Qur’an.

Di yayasan yang Anda kelola ada program apa lagi dalam pemanfaatan teknologi?

Kami juga punya gerakan lain agar orang bisa belajar Qur’an tapi dengan waku terbatas dengan kemampuan terbatas, maka kami buat layanan Qur’an Call. Kami punya beberapa petugas yang melayani orang yang mau menghafal Qur’an secara harian, atau yang ingin diperbaiki tajwidnya, atau hanya sekadar ingin disimak bacaannya. Itu ada petugas dari kami 24 jam, dan di database ada 2.000 orang yang mau belajar.

Siapa saja yang boleh telepon?

Itu siapa saja semua kalangan boleh telepon. Bisa orang tua, bisa yang sibuk di mobil dalam kemacetan, dia bisa belajar, bisa mengaji, kalau menghafal ya bisa setor hafalan.

Bagi yang tak bisa telepon?

Kami juga mempermudah lagi dengan membuat santritahfiz.com. Itu juga sekitar 3.000 santrinya. Ada santri yang benar-benar berminat, ada santri yang sekolah di pesantren Daarul Qur’an, ada juga santri virtual, karena santri jenis ini tidak pernah bertemu dan kelihatan orangnya, tapi dia tetap belajar tiap hari, disimak tiap hari. Nanti ada ujiannya, sesuai target, apakah lewat voice, bisa lewat web cam, kalau lewat telepon sih bisa baca (curang, Red). Tapi yang penting sih semangatnya.

Bagaimana dengan sumber dananya?

Potensi Daarul Qur’an itu penggalangan danaya lebih ke sedekah dibandingkan zakat. Kami sadar bahwa lahan zakat sudah banyak yang memperebutkan. Ternyata peluang atau potensi dari sedekah ini luar biasa, karena tak hanya orang kaya saja yang mau bersedekah, kalau zakat kan bisa jadi “harus menghitung nisab, nanti kalau gajinya sudah gede, kalau udah punya duit banyak, baru berzakat”. Tapi kalau sedekah, penjual pisang goreng juga bisa sedekah, penjual mi ayam juga bisa sedekah. Nah ini kemudian yang menjadikan core Daarul Qur’an. Kami mangambil porsinya dari sedekah.

Pencapaian apa saja dari Daarul Qur’an di masyarakat?

Pertama, dengan mereka mau mengikuti apa yang disuarakan Daarul Qur’an, yaitu belajar Qur’an, menghafal Qur’an, melalui media-media tadi, kemudian membangun rumah tahfiz sendiri, mencari donatur sendiri, bahkan mengelola rumah sakit sendiri, itu menjadi gerakan yang luar biasa, tak perlu di-support oleh PPPA, kami tinggal memberikan panduan pada masyarakat bahwa rumah tahfiz itu begini caranya, kurikulumnya begini, nanti mereka berjalan sendiri.

Contohnya?

Misalnya di Palangkaraya ada sekitar 60 rumah tahfiz. Kemudian di Makassar ada 52 rumah tahfiz. Itu baru di satu kota, belum di kota-kota lain, tentu saya yakin perkembangan rumah tahfiz menakjubkan juga, karena ini bukan harus Daarul Qur’an, tapi ini gerakan yang bisa dilakukan oleh siapa saja.

Ustadz sendiri aktif di Daarul Qur’an sejak kapan?

Saya sejak 2007, sejak yayasan berdiri. Saya waktu itu masih di Al-Azhar Peduli Umat, tapi oleh Ustadz Yusuf Mansur diamanahkan untuk mengawali Daarul Qur’an. Alhamdulillah sampai sekarang berjalan bersama kawan-kawan bertemu orang-orang hebat, yang perjuangannya luar biasa.

Yang tidak berjuang dengan sepenuh hati di Daarul Qur’an pasti akan menyingkir dengan sendirinya.

Motivasi apa yang membuat Ustadz ingin bergabung dengan Daarul Qur’an?

Saya tertarik karena dia (Ustadz Yusuf Mansur) guru saya, guru yang luar biasa sehingga banyak perubahan dalam diri saya, dengan ikut apa yang dia arahkan. Beliau mengajarkan bahwa kalau saya pintar bersedekah, jangan hanya pintar mengajak orang untuk sedekah, tapi kita harus menjadi pelaku sedekah itu sendiri. Kan banyak nih amil yang susah-susah karena mereka hanya pintar mengajak bersedekah tapi dianya tidak jadi ahli sedekah. Saya bikin surat terbuka saja bagi seluruh amil bahwa kita juga harus jadi pelaku sedekah yang luar biasa, jangan yang biasa-biasa saja, karena kalau kita biasa saja akhirnya yang bertestimoni itu orang orang lain, “saya abis sedekah ini ada perubahan ini,” kita tukang catat saja, sebagai pelaku kita tidak dapat perubahan-perubahan itu.

Bagaimana setelah Ustadz bergabung di Daarul Qur’an?

Saya pribadi jadi lebih banyak perubahan. Itu karena Ustadz Yusuf Mansur mengawal kami sebagai pengurus untuk cintai Al-Qur’an, cintai sholat malam, cintai sholat dhuha, cintai sholat tepat waktu, cintai sedekah, itu saja jadi sesuatu yang luar biasa dalam kehidupan ini. Kalau tak ada orang yang mengingatkan sholat tepat waktu itu penting, qobliyah dan ba’diyah itu penting, dhuha dan tahajud itu penting, sedekah itu penting, sedekah banyak itu penting. Kalau tidak ada guru seperti Ustadz Yusuf Mansur, mungkin kehidupan saya tidak banyak berubah. Atas izin Allah, dapat “lompatan-lompatan” itu. Subhanallah lah, saya rasakan luar biasa.

Apa tantangannya?

Tantangannya luar biasa mengajak orang bersedekah itu banyak ceritanya. Kalau dulu mengajak orang zakat dari yang tak sadar zakat jadi sadar zakat, tapi harus ada peningkatan, tak hanya cukup zakat. Zakat itu baru minimal sekali, tapi sedekah yang luar biasa. Kalau zakat ada hitungannya, sedekah itu tak ada hitungannya. Semakin banyak bersedekah, ternyata semakin hebat dan semakin “lompat”.

Meyakinkannya itu jadi seni tersendiri mengelola lembaga ini. Alhamdulillah atas izin Allah sekarang Daarul Qur’an sudah punya 50 ribu donatur.

Apa harapan Ustadz ke depan?

Saya ceritakan lagi dream-nya Ustadz Yusuf Mansur: itu pemimpin negeri ini didominasi penghafal Qur’an. Mau RT-nya, RW-nya, lurahnya, camatnya, bupatinya, wali kotanya,, bahkan presidennya pun insyaAllah ke depannya adalah seorang penghafal quran. Di saat posisi-posisi itu dipegang oleh tangan-tangan orang yang hafiz Qur’an, insya Allah bisa menjalankan amanah dengan baik.

Kami mencetak generasi qur’ani ini untuk menguasai teknologi, ada yang jadi pilot penghafal quran, kami ada arsitek yang penghafal Qur’an, bukan jadi arsitek dulu lalu belajar hafalkan Qur’an, tapi dia jadi penghafal quran dulu baru jadi arsitek, jadi pilot , kapolri, menteri, anggota DPR,

Dream satu lagi yang mudah-mudahan Allah wujudkan: kalau pesantren ini terus berkembang, maka 30 tahun ke depan anak-anak ini jadi orang yang menempati posisi penting.

Allah nanti mewujudkannya di tahun berapa, nanti Presiden Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, di kawasan Asia Tenggara atau Asia mereka rapat. Di forum rapat itu yang dibahas bukan hanya pemerintahan dan kenegaraan, tapi para pemimpin bangsa itu membicarakan bagaimana sholat lima waktunya, bagaimana hafalan Qur’annya, bagaimana keadaan negerinya tentang Qur’an. Subhanallah, dan ternyata setelah cross check itu para pemimpin negara Asia semua hafiz Qur’an.

Aamiin ya robbal alamiin… Terima kasih Ustadz atas waktunya, wassalamu’alaikum.

Wa’alaikumussalam… (yk/ric)

Biodata

Nama : Muhammad Anwar Sani

Tempat dan Tanggal Lahir : Blora, 18 Agustus 1976

Pendidikan : S1 UIN Syarif Hidayatullah

Buku : Jurus Menghimpun Fulus, Motivasi Zakat, Donat Kehidupan

Keluarga : Henita Sari (istri), M. Fatih Husna dan Saffana Sania (anak)

AddThis Social Bookmark Button

Aa Reza, Karomah Itu Berasal dari Allah

MEI 2013

Sudah sifat manusia yang menginginkan banyak hal semasa mereka hidup di muka bumi. Ada yang ingin hidup bahagia dengan uang berlimpah, ada juga yang ingin bahagia dengan memiliki keluarga, ada yang bahagia dengan barang-barang keduniawian, bahkan ada yang senang dengan ilmu sehingga ingin disegani oleh manusia lainnya.

Keinginan menjadi makhluk yang memiliki kemuliaan atau karomah merupakan salah satu sebab kita berlomba-lomba dalam menggapai segala kebaikan. Karena dalam kebaikan itulah kita akan mendapat kemuliaan dari Allah SWT.

Semua keinginan itu merupakan fitrah manusia yang hanya bisa didapat dengan kerja keras. Sah-sah saja bila manusia mendapatkan itu semua, namun dalam proses menjadi mulia atau mendapatkan karomah haruslah berdasarkan aturan agama, yang mengacu pada syariat, dan sesuai tuntunan Allah SWT.

Dalam sebuah kesempatan, majalah Muzakki berbincang dengan seorang ustadz muda yang tengah istiqomah dalam berdakwah. Aktivitasnya sebagai seorang ustadz, suami dan ayah, serta pehobi motor gede ini membuatnya patut diperhitungkan dalam dunia keilmuan agama Islam, apalagi kebanyakan dari tausyiahnya adalah mengenai upaya kita mendekatkan diri pada Allah SWT.

Berikut ini adalah petikan wawancara dengan Ustadz Biker asal Cimahi, Ahmad Faizal Reza atau yang kita kenal dengan panggilan Aa Reza.

Assalamu’alaikum, Aa?

Wa’alaikumussalam.

Apa saja kesibukannya saat ini?

Ya ceramah saja, di masjid dan di TV.

Begini, Aa. Saat ini di masyarakat sedang ramai tentang orang yang mendapat karomah. Karomah itu apa?

Karomah itu adalah salah satu jalan untuk meraih kemuliaan. Kita jangan sampai tertipu daya dengan urusan keduniawian.

Lalu bagaimana dengan orang yang ingin mendapatkan karomah atau (merasa) sudah mendapatkannya demi kepentingan hidup di dunia?

“Tidaklah kehidupan dunia itu kecuali kesenangan yang memperdaya.” (Ali Imran 185). Jadi jangan terpedaya oleh dunia, kita ini sama-sama menuju pada akhir hidup, yaitu menuju akhirat, kehidupan yang sebenarnya. Dengan iman dan takwa pasti kita akan mendapatkan titipan karomah dari Allah, yang penting kita mengendalikan hawa nafsu dengan baik dan tentu saja memperbanyak amal baik.

Berarti boleh dong kita mengharapkan karomah demi hari esok?

Besok akan jadi apa kita, itu yang kita harus pikirkan. Jangan-jangan besok kita akan mati. Berbuat baik sajalah.

Bagamana cara mendapatkan kebaikan yang mungkin setara dengan karomah?

Duduk di majelis pengajian saja subhanallah, itu dibalas oleh Allah bagaikan shalat sunat seribu rakaat. Coba kita berdiri untuk shalat seribu rakaat. Tak bakal sampai dari magrib sampai Isya. 20 rakaat saja kita sudah lemas. Tapi duduk memerhatikan pengajian, tholabul ilmi, meningkatkan kebaikan-kebaikan, diganti sama Allah dengan pahala seribu rakaat. Itulah kebaikan Allah pada kita, itu sudah karomah. Walaupun kata orang itu adalah pahala, namun itulah kemuliaan. Begitulah Allah memberikan kemuliaan pada kita. Allah tinggikan derajat kita di hadapan-Nya. Kalau orang-orang yang senantiasa berbuat baik, itu akan dimudahkan, dan dibukakan pintu karomah oleh Allah.

Contohnya bagaimana?

Begini, kalau karomah yang biasa-biasa saja, bukan karomah “ga biasa”, kalau mau ditembak, kalau karena Allah, orang mau mencederai orang itu, si peluru yang akan sampai kena orang itu, kalau karena karomah Allah, peluru itu bisa tak kena.

Ohhh, kalau kisah di masa lalu?

Contoh: kejadian Ashabul kahfi yang ditidurkan oleh Allah di gua selama 300 tahun, ini sesuatu yang di luar akal. Ini yang disebut dengan karomah. Kalau yang diberikan pada para nabi itu namanya mukjizat. Banyak kelebihan yang Allah titipkan pada para nabi untuk menunjukkan kebesaran Allah melalui hamba-hambanya, yaitu utusan-utusannya, para nabi dan rosul. Kalau yang tak tahu karomah, itu sering dititipkan pada para wali atau kekasih-kekasih Allah, setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Dan sering kejadian pada para tabiin, pengikut-pengikut nabi, atau para sahabat. Tapi sering kita artikan di sini, banyak di antara kita yang meyakini bahwa karomah itu adalah hal yang luar biasa. Betul luar biasa, tapi luar basa karena Allah yang Maha Luar Biasa. Sekali lagi manusia tiada daya dan upaya, untuk menunjukkan jati diri sebagai orang yang mempunya upaya karena semua datang dari Allah.

Bisakah kita sebagai orang biasa mendapat kemuliaan?

Tentu bisa. Dalam surat Al Hujurat ayat 13, dijelaskan bahwa yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kita. Selanjutnya di ayat 14, Tidak hanya mangucap “Kami Beriman pada Allah” tapi harus tunduk, patuh, taat, karena ada yang berucap “aku beriman pada Allah”, tapi hatinya tidak membenarkan.

Apa kemuliaan itu berpengaruh pada kita?

Dalam surat Asy-Syuaro ayat 88-90 dijelaskan bahwa “tidak akan berguna hartamu, anak laki-lakimu, sifat keduniawianmu kala kalian datang padaKu,” tak akan berguna kata Allah, tapi yg berguna saat datang ke hadapan Allah adalah membawa hati yang selamat, membawa hati yang suci. Dan sudah dipersiapkan surga itu bagi orang yang bertakwa.

Orang yang bagaimana yang mampu bertakwa?

Orang yang suka mensucikan dirinya, itu orang yang mampu bertakwa melakukan perintah Allah dengan sebenar-benarnya dan menjauhi segala larangannya.

Caranya?

Kalau mau jadi orang yang disebut kekasih Allah, tunjukkan saja iman dan takwa. Tapi jangan ditunjukkan pada manusia, itu saja. Jadi salah nanti. Jadi biasa saja. Tapi pada saat kita beribada pada Allah, itu yang luar biasa. Sama orang lain mah biasa saja. Tak usah ke mana-mana jadi ingin pakai sorban, ke mana-mana ingin terlihat takwa. Kalau mau sholat sorbanan, itu nanti balasannya dari Allah, cari baju yang rapi yang bersih yang paling bagus untuk sholat. Pada saat kita sholat, tunjukkanlah pada Allah bukan pada manusia.

Kalau menyebarkan kebaikan, bukan berarti menunjukkan pada orang-orang?

Lihat perjalanan sembilan wali, kenapa mereka selalu di gua, mereka selalu menenangkan diri di gua, tapi begitu karomahnya dapat dari Allah, begitu bermanfaat bagi kita. Kita lihat kalau kita berkunjung ke makam sembilan wali di Indonesia, ribuan orang tiap hari berkunjung untuk mendapat apa ke sana? Untuk mendapatkan keberkahan, bukan mendapatkan karomah yang diberikan Allah pada para wali. Nah, ini harus hati-hati.

Bagaimana kita mendapatkan karomah? Tak bisa kita dengan berilmu selama sepuluh tahun supaya mendapatkan karomah, tak bisa seperti itu. Tergantung Allah yang berkehendak. Ada orang yang tadinya tidak mau bertaubat, tapi dikehendaki Allah untuk bertaubat. Ada! Berpuluh tahun tak sholat, akhirnya dipaksa sama Allah untuk sholat, akhirnya dia mau sholat. Ada banyak kejadian-kejadian seperti itu.

Itu namanya apa?

Itu adalah bagian dari hidayah, bagian dari karomah. Kemuliaan yang Allah berikan, Allah paksa  untuk dimuliakan. Akhirnya beliau-beliau yang hijrah jadi rajin shalat, patuh, tekun, malah diminta jadi penasihat. Karomah, itu bahasanya sebetulnya “sesuatu yang luar biasa.”

Kalau orang bisa berjalan di atas air, tahan api, kebal peluru dan kebal dibacook, apa itu karomah?

Lihat bagaimana caranya orang mencapai semua itu.

Biasanya bagaimana cara orang seperti itu mencapainya?

Mereka belajar, ada yang tiga hari, atau 40 hari puasa. Jalan di atas air, kebal dibacok, tak mempan kena apa-apa, tidak usah tiga hari sekarang mah. Karena saat saya dulu ikut begitu-begituan itu cuma sehari.

Beneran Aa?

Orang mah 40 hari puasa buat mendapatkan kekebalan. Saya mah sehari, demi Allah sehari. Tapi caranya yang salah.

Berarti caranya itu tak sesuai syariat?

Kalo karomah itu caranya sesuai dengan syariat. Sesuai dengan yang diinginkan oleh Allah. Dia shalat, dia zikir, dia tahajud, dia dhuha, dia rajin baca Al-Qur’an, dia mendekatkan diri pada Allah. Keimanan dan ketakwaannya yang Allah lihat. Kalau dia tidak shalat, dia tidak ngaji tapi mendapatkan karomah, itu bukan karomah.

Bagaimana kalau mendapatkan semua itu selain dari Allah?

Jangan lah! Jangan takut, Allah bersama kita. Kalau kita sudah tanamkan niat dalam diri bahwa Allah bersama kita, Demi Allah, kita tak akan susah menjalani hidup. Apalagi kita mau menyiasati hidup ini dengan barokah Allah, ingat kita senantiasa diawasi oleh Allah, ke mana-mana diawasi oleh Allah, kaya ada CCTV di mana-mana, CCTVnya malaikat. Allah sendiri Yang Maha Mengetahui kondisi kita saat ini.

Apa yang terbaik?

Yang terbaik adalah bagaimana kita mendapatkan ridho Allah. Bagaimana kita menjadi orang yang tasrif, yang patuh, tunduk pada Allah. Jalani hidup dengan syariat.

Apa tipsnya?

Dalam kitab Tazkiatun Nafs dijelaskan, pertama buang penyakit-penyakit hati: sombong, iri, dengki, hasad, hasud, riya, dendam, amarah. Tidak akan dimasuki karomah kalau hamba Allah masih menyimpan kotoran hati.  Yang kedua, isi hati dengan kebaikan, yang suudzon jadi husnudzon, yang tadinya sombong menjadi tawadhu, yang tadinya iri menjadi menyampaikan manfaat dan kasih sayang.

Kalau kita sudah dapat karomah

Jangan kepedean kalo kita sudah mendapatkan karomah, jangan begitu. Tapi kalau kita sudah merasa jauh dari sifat kotor hati, jangan pula sombong dengan itu. “Kayanya kita sudah soleh, kayanya kita sudah lebih benar dari orang lain,” jangan begitu. Tetap kita harus merasa diri kotor, merasa diri jauh dari sholeh. “Barang siapa yang merendahkan hatinya, maka Allah akan meninggikan derajatnya. Barang siapa yang meninggikan hatinya, maka Allah akan merendahkan serendah-rendahnya.”

Orang yang dimuliakan oleh Allah senantiasa merasa rendah dirinya, dzolim, dan merasa dirinya kotor. Orang yang dimuliakan oleh Allah tidak menunjukkan jati dirinya menjadi seorang hamba yang mulia, tapi ia terus merendahkan serendah-rendahnya. Tak bisa membedakan dengan kasat mata bahwa kayanya ini mah orang yang mulia, itu mah enggak, tak bisa.

Makanya titip nih, kalau ada orang yang merasa diri sudah mendapat karomah, tapi syariatnya tidak dijalankan, itu jauh dari karomah. Gampang sebetulnya, tinggal lihat ibadahnya. Oh dia bisa begini, bisa begitu. Bisa melakukan hal di luar dari akal pikiran kita, tapi dia tidak menjalankan syariat, tidak shalat, tidak puasa, jangan harap itu datangnya dari Allah, pasti datang dari selain Allah, dan biasanya itu untuk menyesatkan.

Apa yang Allah lihat dari kita?

Allah tidak melihat bentuk tubuh dan rupa kalian, Allah tidak melihat harta kalian, namun Allah melihat hati kalian dan melihat amal ibadah kalian. Sudahkah kita benar-benar patuh dan taat pada Allah, tinggal balik ke diri. Makanya, saat kita melakukan ibadah, melakukan akhlak, muamalah, itu harus penuh dengan kesungguhan. Sungguh-sungguh dalam ibadah, dalam berakhlak, dalam melakukan perbuatan keseharian. Kata Allah, Barang siapa yang bersungguh-sungguh di jalan Allah, maka Allah akan tunjukkan jalan yang sebenar-benarnya dari jalannya Allah. Bukan jalan yang tidak biasa lagi, tapi jalan yang sesuai dengan yang Allah inginkan.

Adakah ustadz atau ulama yang tak sesuai ajaran Islam?

Kalau kita bertemu seseorang di suatu daerah, atau di mana gitu, kalau dia mengaku ulama terus akhirnya memberikan sesuatu pada kita dengan torehan-torehan tangannya dengan arab gundul di atas kertas atau kain lalu dijadikan jimat atau isim dan diyakini memiliki kekuatan. Apakah kita harus meyakininya sebagai ulama?

Aa pernah pengalaman?

Punten, saya keras untuk urusan seperti ini. Karena saya pernah mengalami hidup bersama dengan ulama di suatu daerah terutama di daerah saya. Mungkin saya menjadi musuh bagi ulama daerah itu yang masih melakukan hal tersebut. Tapi ya biarin lah. Itu mengarahkan kepada kemusyrikan. Kata dia, nanti bisa ini, nanti bisa itu. Siapa yang menentukan itu? Allah, bukan manusia. Harus yakin kita sama Allah.

Janganlah kita menaruh isim disimpan di saku, lalu kita bisa jadi berwibawa, kita bisa mendapatkan pekerjaan lebih mudah. Karomah tidak bisa didapatkan dengan cara seperti itu. Banyak-banyak mengingat Allah. Itu bacaan-bacaan, dibaca lalu diamalkan dalam kehidupan keseharian kita.

Ulama yang baik yang bagaimana?

Kalau ulama-ulama akhirat, itu nyuruhnya shalat malam, banyak sedekah, shalat dhuha, banyakin zikir, banyakin istighfar, itulah ulama-ulama akhirat. Ingat, kalau mau mendapatkan sesuatu seperti karomah, ada di tempat karomah, jauh dari ulama yang begitu. Itu malah menyesatkan. Kalau ada orang sakit, ya dibantu dengan doa.

Apa pesan Aa?

Kalo mau mendapatkan karomah, caranya: Iman dan Takwa. Datangi masjid, shalat berjamaah, menengadahkan tangan berdoa.   (ric)


PROFIL

Nama                                     : Ahmad Faizal Reza (Aa Reza) / Ustadz Biker

Tempat/tanggal lahir : Cimahi, 12 Mei 1975

Keluarga : Poppy Sakina (istri), Maulana Arsyan Ramdhani dan Aliyyah Nadhifah Reza (anak)

Website/e-mail                  : www.baitul-ikhlas.com / This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

Kegiatan : Ketua Masjid Jami Asy Syuhada-Jakarta, Pemimpin Majelis Dzikir Baitul Ikhlas-Jakarta, Direktur Utama PT Cahaya Lima Energi, Komisaris Utama PT Akbar Jaya Lestari, Komisaris Utama PT Lima Production, Pembimbing Haji dan Umroh Paradiso Travel/Poskota Group

Kegiatan Dakwah : Ramadhan on Wheel, Metro Tv (2006), Ramadhan on Wheel session 2, Global Tv (2007), Santri Riders, TV One (2008), Sajadah Panjang, O Channel (2008-2009), Cermin Hati, Global TV (2009), Titian Qolbu, TV One (2009), Damai Indonesiaku, TV One (2010), Cahaya Hati AnTeve, (2010), Tausyiah on the Street, Alif Tv Telkomvision (2010 – sekarang), Ceramah Agama di dalam/luar kota dan di luar negeri, Hikmah Perjalanan Biker (Hiper Biker) Program Tv Religi

AddThis Social Bookmark Button

Jamil Azzaini: Hidup Harus Sukses Mulia

APRIL 2013

Jika kita mengalami kegagalan dalam hidup, apa yang biasanya terjadi pada diri kita? Sedih, terpuruk, hancur?

Buang jauh-jauh rasa itu. Kegagalan yang terjadi pada diri kita harus dijadikan sebagai pelajaran, karena hidup ini adalah tentang BELAJAR DAN BERHASIL!

Itulah yang terpercik dari semangat yang ditularkan seorang motivator, inspirator, trainer, dosen, penulis buku, pendiri sekolah dan pesantren, serta entrepreneur, JAMIL AZZAINI.

Siapa sangka kehidupan masa kecilnya begitu menderita, namun kini beliau menjadi orang yang sukses (dan mulia) dengan virus SUKSES-MULIA.

Berikut ini adalah kutipan wawancara Muzakki dengan Jamil Azzaini...

Assalamualaikum, Pak. Apa kabar? Aktivitas dan kesibukannya apa saja nih?

Waalaikumussalam. Baik. Saya sibuk jadi entrepreneur, mengurus sekolah, jadi trainer dan motivator.

Mana yang jadi prioritas Bapak?

Semua, semuanya dinikmati. Tapi kalau ditanya mana yang paling menyita waktu banyak, ya yang mengisi training.

Sekolahnya bagaimana?

Semua sistem sudah berjalan, saya hanya mengecek saja. Sudah ada manajemen tersendiri.

Sekolahnya seperti apa sih?

Sekolahnya itu SMP sampai SMA. SMPnya berupa Tsanawiyah, sekolah Islam. Muridnya hingga kini ada sekitar 1.400-an. Kalau yang tidak mampu, tak usah bayar. Pesantren yang di Klaten itu pesantren wirausaha. Khusus melatih anak-anak muda lulusan SMP atau SMA, setahun di sana, setelah keluar itu jadi wirausaha.

Yang melakukannya adalah tim saya di lapangan.

Pesantrennya khusus untuk yang miskin, tapi SMP dan SMA-nya untuk siapa saja asal lulus seleksi.

Ada seleksinya. Untuk tahap awal berupa seleksi administrasi. Kalau sudah lulus disuruh tinggal di asrama sekitar dua minggu di-training. Yang kami terima hanya 30 sampai 40 orang.

Kenapa di-training?

Itu pesertanya dari berbagai daerah, kalau seleksinya tak lulus kan ongkos dan lain-lain habis, kasihan. Tapi kalau dia tak lulus, paling tidak sudah dapat training selama satu bulan. Jadi ilmu yang dibawa pulang lebih besar daripada pengeluaran yang dia lakukan. Dan itu selama setahun, cuma-cuma.

Dari semua kegiatan, bagaimana cara Bapak membagi waktu dengan keluarga?

Sebenarnya Islam sudah memberi tuntunan berupa hal yang Wajib, Sunah, Makruh, Mubah, dan Haram. Maka sibukkan diri kita untuk hal-hal yang wajib dan sunah. Yang makruh sekali-kali diambil tak apa-apa. Yang mubah tinggalkan. Yang haram campakkan. Karier bagi saya penting, keluarga juga penting. Membaginya bagaimana? Kadang kalau jadwal training saya padat, keluarga saya ajak. Baik itu ke Bali, ke Hong Kong, atau ke Jepang, Kalau jadwalnya agak lama, mereka diajak.

Saya tidak membiasakan diri untuk multitasking. Kalau sedang di rumah ya full untuk keluarga, sibuk nonton televisi, sibuk main, sibuk bersosial media, kalau main sama keluarga ya main bersama. Sedang bekerja di sela-sela perjalanan, kadang telepon-teleponan satu sampai dua jam.

Sekarang anak-anak sudah besar, yang paling kecil kelas empat, yang penting bagi anak-anak adalah saatnya mendengarkan dan menjadi suri tauladan. Kalau malam mendengarkan cerita mereka, kadang mendongeng untuk mereka. Sampai memberikan contoh suri tauladan, kalau pergi ke masjid ya diajak.

Insya Allah selama ini tak ada problem. Baik-baik saja.

Ada protes dari anak-anak?

Sekali-kali ada, tapi itu tertutupi dengan cara kita fokus pada mereka saat berkumpul.

Adakah yang turut berperan dalam pekerjaan Bapak?

Tak ada. Anak saya yang pertama dan kedua di Jerman. Satu di Hannover, satu di Berlin.Yang ketiga di Surabaya, yang keempat dan kelima di Bogor. Yang biasanya membantu memberikan ide ya istri saya. Ide dan gagasan, tidak membantu sampai teknis. Kalau masalah teknis sudah ada tim di lapangan.

Semendukung apa?

Mendukung tidak harus selalu aktif. Dia memberikan ketenangan, itu sudah mendukung. Kita capek sesampai di rumah, lalu anak mengajak main supaya saya punya energi, itu juga bentuk dukungan. Jadi bagi saya, semua anggota keluarga memberikan dukungan pada saya. Sapalagi semua anggota keluarga tahu apa impian-impian yang ingin saya wujudkan. Sehingga kalau saya sibuk ke sana-kemari ya mereka tak protes. Protes pernah, tapi karena kangen.

Cita-citanya apa sih sewaktu Bapak masih kecil?

Kalau waktu kecil dulu saya ingin jadi insinyur pertanian. Lalu saat terjun di dunia trainer, saya ingin jadi Best Trainer se-Asia. Lalu saya merenung, kalau jadi trainer terbaik se-Asia itu tercapai, so what, buat apa? Enggak ah, saya mau membuat impian yang bermafaat bagi orang lain.

Kemudian saya membuat impian untuk mengubah 25 juta orang lebih, dan di antaranya putus dari kemiskinan. Sejak tahun 1994 itu saya aktif dalam program-program pengentasan kemiskinan, baik itu pada petani, pedagang, peternak. Tapi sepanjang perjalanan yang saya lakukan itu rentang 1994-2012 (delapan belas tahun) kok rasanya banyak yang terasa “kalau dihitung-hitung antara energi yang dikeluarkan tidak sebanding”. Maka pada tahun 2013 ini impian itu saya perbarui: Menginspirasi 25 juta orang, tapi bukan lagi mengentaskan kemiskinan, melainkan mengkader sepuluh ribu trainer-trainer hebat. Trainer-trainer tersebut nantinya bisa menginspirasi banyak orang. Karena menurut saya menuntaskan kemiskinan itu juga perlu kebijakan pemerintah, perlu sistem yang mendukung juga, perlu pemimpin yang baik juga.

Kalau kita melakukan secara individu-individu itu boleh jadi tertolong, tapi energi yang dikeluarkan lebih besar daripada jumlah yang tertolong. Maka lebih baik saya ciptakan kader-kader yang mau menginspirasi Indonesia.

Saya mendirikan Indonesia Inspiring Movement untuk menginspirasi banyak orang supaya paradigmanya berubah tentang kehidupan.

Siapa yang menjadi inspirator pribadi Bapak?

Diri sendiri, juga orang tua, keluarga, istri. Kalau sedang semangat ya mereka yang menyemangati.

Role modelnya siapa?

Rasulullah SAW. Karena memang impian saya ada dua. Kalau impian di dunia itu menginspirasi 25 juta orang lebih, sepuluh ribu di antaranya menjadi trainer hebat, tapi mimpi saya di akhirat adalah ingin memeluk Rasulullah. Maka itu saya harus mengikuti apa yang dilakukan Rasulullah.

Setiap pagi bangun, berpikir ”Bagaimana caranya nanti bisa memeluk Rasulullah?”. Namanya manusia, tak selamanya lurus, kala akan berbuat maksiat, berpikir ”Kalau kau melakukan maksiat ini, apakah nanti pantas memeluk Rasulullah?”

Kita bukan malaikat, pasti berbuat salah. Tapi setidaknya impian ingin memeluk Rasulullah itu menjaga agar saya tidak berbuat sembarangan. Kalau itu tidak disukai Rasulullah, pasti akan saya usahakan untuk ditinggalkan.

Kalau kita ditanya ”Siapa motovator nomor satu di Indonesia?” jawabannya adalah diri Anda sendiri, lalu para motivator/inspirator/trainer seperti saya dan lain-lain adalah peringkat kedua. Jadi jangan berharap bisa berubah jika diari sendiri tak punya motivasi.

Yang belum kesampaian dalam hidup Bapak?

Memotivasi 25 juta orang itu belum, menciptakan sepuluh ribu kader belum. Saya sedang mengejar impian itu. Itu kan impian tertinggi. Ingin saya capai di usia 60 tahun. Sekarang saya baru berusia 45 tahun. Masih ada waktu 15 tahun. InsyaAllah, yakin terwujud.

Pernah menjalani kesempatan kedua setelah mengalami kegagalan?

Sering. Bisnis pernah gagal. Kuliah pernah gagal. Tapi hidup itu bukan antara gagal dan berhasil. Hidup itu belajar dan berhasil. Kalau kita alami kegagalan, itu artinya sedang belajar. Pasti ada hikmah di balik itu.

Saya pernah punya sebelas perusahaan. Bangkrut itu. Kalau dilihat dari kacamata luar itu gagal. Namun saya belajar dari itu, bahwa bisnis itu tak bisa sembarangan. Misalnya memberikan kepercayaan pada orang yang memang bisa mengemban amanah.

Falsafah saya: ”Pelaut ulung tidak akan lahir dari lautan yang tenang. Orang yang hebat tak akan pernah lahir dari cobaan dan ujian.” Kalau mau hebat ya harus mau diuji.

Yang dilihat Allah itu bukan hasilnya, namun prosesnya. Bagi saya yang motivator, orang bisa berubah jadi lebih baik itu bukan wewenang saya, tapi wewenang Allah. Kalau susah mengubah orang, kita harus introspeksi, jangan-jangan caranya keliru.

Bagaimana kesuksesan yang ada di masyarakat Indonesia sekarang?

Bagi saya kan bukan hanya sukses, tapi hidup terbaik itu adalah sukses mulia. Sukses itu apa? Sukses adalah yang 4 TA-nya tinggi, HARTA, TAKHTA, KATA, CINTA. Orang yang hartanya banyak boleh dong kita katakan sukses. Orang yang takhtanya tinggi boleh juga kita katakan sukses. Orang yang kata dan ilmunya banyak juga boleh dikatakan sukses. Ada orang dicintai banyak orang, boleh dikatakan sukses.

Tapi itu saja tidak cukup. Hidup itu harus mulia. Mulia itu memberi manfaat.

HARTA, TAKHTA, KATA, CINTA harus digunakan sebagai sumber manfaat untuk orang lain di sekitar kita. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kita adalah orang yang paling bermanfaat buat orang l;ain, maka kehidupan itu harus SUKSES-MULIA. Tak boleh hanya salah satunya.

Sukses Mulia itu seperti orang bernapas. Menarik napas itu sukses. Mengembuskan napas itu mulia.

Kunci suksesnya apa?

Kalau mau sukses mulia harus punya tiga hal: Expert (keahlian), Asset (optimalkan dengan kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas), Epos (Energi positif).

Ketiganya merupakan perkalian, bukan penambahan. Salah satunya tak boleh nol.

Tantangan terberat yang biasanya jadi ganjalan atau halangan?

Dari diri sendiri. Sebagai trainer kalau di panggung harus oke. Namun sebenarnya yang paling baik itu bukan hebat di atas panggung, tapi dalam kehidupan sebenarnya, dalam implementasi keseharian. Bisa saja di panggung dia hebat, tapi di kehidupan nyata dia tak bisa jadi suri tauladan, jangan berharap jadi orang hebat.

Trainer yang hebat itu yang bisa jadi contoh bagi pasangannya, jadi contoh bagi anaknya.

Apa pesan Bapak bagi masyarakat?

Sekarang bukan zamannya hidup sukses, hidup itu harus mulia. Diri kita berhasil dan keberadaan kita harus jadi manfaat buat orang lain. Jangan hanya mengejar sukses, lalu berutang sana-sini demi penampilan, demi mobil, demi motor, demi rumah, agar terlihat mewah padahal susah. Itu hidupnya pakai topeng. Terlihat keren tapi utangnya banyak.

Maka hidup yang baik itu yang SUKSES-MULIA, Harta, takhta, kata, dan cintanya tinggi, di sisi lain dia memberi manfaat buat orang banyak.Hidup apa adanya dengan sukses mulia. Hidup Anda berhasil sambil memberi manfaat.  (ric)

BIODATA

Nama Lengkap : Jamil Azzaini

Tempat Lahir : Kutoarjo

Tanggal Lahir : Jumat, 9 Agustus 1968

Karier:

  • Dosen Pascasarjana IPB
  • Founder PT Kubik Kreasi Sisilain
  • Founder Dompet Dhuafa Republika
  • Founder Baitul Maal wa Tamwil (BMT)
  • Penggagas Indonesia Inspiring Movement (I2Move)

Buku:

  • Ingin Sukses? Jangan Jadi Penonton, 2012
  • Makelar Rezeki, 2012
  • Rahasia Penyalur Energi Sukses dan Mulia, 2012
  • Tuhan, Inilah Proposal Hidupku, 2010
  • DNA Sukses Mulia, 2010
  • Menyemai Impian Meraih Sukses Mulia, 2008
  • Kubik Leadership. Solusi Esensial Meraih Sukses dan Hidup Mulia, 2008

SOCIAL MEDIA

http://jamilazzaini.com
http://www.kubik.co.id
http://www.i2movenetwork.com
Facebook: Jamil Azzaini
www.twitter.com/JamilAzzaini

AddThis Social Bookmark Button