Semangat Islam di Timor Leste

JULI 2013

Timor Leste, sebuah negara di ujung timur Indonesia memiliki kisahnya sendiri dalam mempertahankan Islam. Di negara yang hanya seluas 15,410 Km2 ini Islam tumbuh menjadi negara minoritas. Dari hampir satu juta penduduknya, hanya 3% yang beragama Islam. Kendati demikian, di negara ini muslim terus mempertahankan identitasnya terhindar dari diskriminasi dan perselisihan.

Tak ada literatur ataupun sumber hidup yang pasti yang menyebutkan kapan Islam masuk ke negara yang pernah menjadi bagian dari Indonesia ini. Akan tetapi, setidaknya ada enam pendapat ahli yang menyatakan masuknya Islam ke Indonesia.

Masuknya Islam ke Timor Leste

Pertama, dikatakan bahwa Islam masuk memasuki Timor Leste bersamaan dengan masuknya Islam di Indonesia. Pendapat ini didukung oleh alur masuknya Islam dari kerajaan Samudra Pasai hingga ke timur Indonesia dan kemudian ke Timor Leste.

Kedua, penduduk asli Timor Leste mengatakan bahwa Islam masuk lebih awal di bandingkan dengan bangsa Eropa dan agama lain. Maksudnya adalah Islam masuk sebagai agama pertama di Timor Leste dan dibawa oleh pendatang yang kedatangannya jauh lebih awal daripada kedatangan bangsa Eropa ataupun penjajah Portugis.

Ketiga, pendapat lain mengatakan Islam masuk ke Timor Leste yang bertepatan dengan masuknya Islam di Indonesia yang dibawa para pedagang Hadramaut. Namun, para pedagang dari Hadramaut saat itu belum menetap, mereka mulai menetap di Dili sejak awal abad ke-17 M. Sejumlah sumber memercayai bahwa pedagang dari Hadramaut yang pertama kali menetap di Dili bernama Habib Umar Muhdhar.

Keempat, sebagian orang mengatakan bahwa Islam masuk di Timor Leste bersamaan dengan datangnya para pedagang Eropa, seperti Portugal, Spanyol, dan Belanda. Ketika melakukan pelayaran ke Indonesia dan Asia Pasifik, para pedagang Arab senantiasa berhubungan dengan pedagang-pedagang Eropa. Mereka berlayar ke Timor Leste melaui Pulau Sumatra, Jawa, Nusa Tenggara, dan Kepulauan Maluku.

Keenam, keturunan Arab di Timor Leste pernah mengatakan dari leluhur mereka bahwa para pedagang Arab itu datang di tanah Timor Dili sejak awal abad permulaan Islam Jazirah Arab. Pada dasarnya umat Islam di daerah Dili adalah bagian dari beberapa tokoh sejarah yang berkembang persebaran Islam di daerah tersebut. Menurut informasi-informasi masyarakat setempat dan juga kalangan keturunan Arab Hadramaut, sebelum bangsa Portugis, Belanda, Jepang, Australia, dan Cina.

H. Abdullah Basyarewan, Ketua MUI Timor Leste menegaskan bahwa saat kapal pertama Portugis tiba di Timor Leste pada tahun 1512, mereka disambut masyarakat Dili yang ketika itu di pimpin oleh Abdullah Afif, seorang saudagar keturunan Arab. Namun, sampai saat ini masyarakat Dili, Timor Leste tidak mengetahui kapan para pedagang Arab datang ke Dili. Dan yang pasti adalah para pedagang Arab datang lebih dahulu di bandingkan dengan bangsa Eropa.

Semangat Meski Minoritas

Kemerdekaan Timor Leste amat berdampak pada berkurangnya jumlah umat Islam Timor Leste, hal ini tidak menyurutkan semangat umat Islam Timor untuk tetap memiliki kekuatan dalam mengakomodasi kebutuhannya di Timor Leste. Semangat keislaman di tubuh Muslim Timor Leste tetap tumbuh dan konsisten dalam rangka meraih hak-hak warga negara. Di tengah kehidupan negara yang baru, Muslim Timor Leste telah mempersiapkan diri dengan membentuk lembaga Islam Timor Leste yang bernama CENCISTIL.

CENCISTIL adalah Centro da Comunidade Islamica de Timor Leste atau Pusat Komunikasi Islam Timor Leste. CENCISTIL didirikan pada 10 Desember 2000, sebelum masa UNTAET di Dili. Keberadaan CENCISTIL sampai saat ini sebagai mitra pemerintah dalam pengurusan mengenai kepentingan umat Islam di Timor Leste. Di samping itu, CENCISTIL berkomitmen menjadi jembatan untuk membangun kerjasama antarmuslim di negara lain.

Keberadaan CENCISTIL lahir sebagai Mitra pemerintah dalam pengurusan mengenai kepentingan Umat Islam, sejak didirikan CENCISTIL mendapat subsidi dari pemerintah, namun sejak tahun 2009 subsidi tersebut tidak lagi cair. Dalam urusan keamanan badan aparatur Negara seperti polisi dan intel bekerja sama dengan CENCISTIL dalam mencegah gangguan yang datang dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, dalam hal tempat ibadah misalnya pemerintah menolong CENCISTIL dengan mengawasi pro-kontra pembangunan gedung TPA di Maliana.

Pemerintah Terhadap Muslim Timor Leste

Presiden dan Wakil Perdana Menteri Republik Demokrasi Timor Leste sangat memerhatikan keberadaan umat Islam di negaranya, terutama dalam hal urusan sosial. Melalui pemerintah, pasal 12 dan 45 dalam Konstitusi Republik Demokrasi Timor Leste menjeamin kebebasan beragama di Timor Leste. Selain itu, pemerintah juga menghormati Muslim dengan menjadikan hari-hari besar Islam, seperti Idul Fitri dan Idul Adha sebagai hari libur nasional. Sedangkan untuk hari besar Maulid Nabi, Isra’ Mi’raj, dan 1 Muharram masih diperjuangkan, termasuk waktu istirahat pekerja Muslim pada hari Jumat untuk melaksanakan shalat Jumat.

Perkembangan Muslimnya

Perkembangan umat islam di Timor Timur saat bergabungnya dengan Indonesia dapat dilihat dari pembangunan istitusi Islam, madrasah serta Masjid yang ada. Salah satu Masjid yang dibangun dan menjadi Icon dari Islam Timor Timur adalah Masjid An-Nur yang sempat hancur disaat terjadi serangan jepang pada Perang Dunia II dan dibangun kembali setelahnya.

Sejak tahun 1977 sampai 1979, Madrasah Diniyah An-Nur mulai menunjukkan perkembangan karena hanya Madrasah An-Nurlah satu-satunya Madrasah tempat menggodok generasi muda di Timor Leste, dengan demikian fasilitas dari umat Islam Dili selalu mengalir, anak didik sering mendapat bantuan alat-alat tulis dari beberapa pihak.

Kemajuan yang dialami Madrasah ini dari tahun ke tahun semakin bertambah, sejak awal integrasi dengan Indonesia berdampak dan mempunyai pengaruh serta memberikan inspirasi, hingga banyak Madrasah-Madrasah yang berdiri di Timor Leste. Seperti Madrasah diniyah Asy-Syafiiyah dan Madrasah Diniyah Hasanuddin. Dan pada tahun-tahun berikutnya berhasil membuka Madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah dan Aliyah dengan tenaga pengajar baru di departemen pendidikan dan kebudayaan Dili.

Keadaan jumlah penduduk muslim mengalami perkembangan yang signifikan dimana jumlah penduduk muslim di timor Leste mencapai 31579 jiwa, terdapat 13 masjid, 30 mushola, 5 madrasah, 7 lembaga Islam, dan 21 Ustadz. Dari data tersebut terlihat pengaruh yang signifikan antara masa sebelum kemerdekaan dan masa sesudah kemerdekaan. Umat islam amat maju di masa bergabung dengan Republik Indonesia dimana merupakan dampak dari transmigrasi yang di lakukan penduduk Indonesia ke wilayah Timor Timur.

Perkembangan mualaf di Timor Leste pada 2011 kemudian tercatat bertambah 500 orang. Jumlah ini terhitung sedikit mengingat sedikitnya tenaga dakwah, ‘alim ulama, dan ustaz yang memberikan pembinaan kepada para mualaf. Kendati demikian, lembaga-lembaga keislaman dan ahli agama di Timor Leste terus menyebarkan Islam melalui kegiatan-kegiatan di bawah CENCISTIL yang berbentuk kesosialan. Di samping itu, sekolah-sekolah dan sarana belajar lainnya yang berbasis Islam terus didirikan dan dikembangkan demi bertahan dan berkembangnya Islam di negeri ini. (nir/ berbagai sumber)

AddThis Social Bookmark Button