Ketika mobil bertenaga bensin menggantikan kereta kuda pada akhir abad ke-19, dunia perlahan-lahan menyaksikan mulai hilangnya bengkel kereta kayu dan peternakan kuda. Kereta kuda beralih menjadi kereta besi bermesin dengan bahan bakar bensin. Pada saat bersamaan, bengkel otomotif, perusahaan jasa asuransi, dan pompa bensin hadir dalam kehidupan manusia. Demikian pula dengan sifat pekerjaan dari yang sebelumnya sangat dekat dengan alam dan tanpa mesin, tanpa polusi, berubah menjadi sangat mekanis, polluted, berbasis keterampilan kursus.

Di seluruh dunia, manusia menyaksikan suatu peralihan: masyarakat pertanian-peternakan menjadi masyarakat industri dan jasa. Ketika peralihan terjadi, kita akan selalu menemukan kelompok orang yang tak siap dan menolak perubahan. Pengangguran menjadi sesuatu yang tak terelakkan. Namun, masa peralihan itu juga membuat manusia mulai berpikir tentang pentingnya pendidikan sekolah dan keterampilan.

Kini dunia tengah menyaksikan perpindahan dari mobil bertenaga bensin ke self-driving car yang dikendalikan teknologi informasi (internet) melalui smartphone. Petugas bengkel kelak bukan lagi seorang montir yang dikenal pada abad ke-20, melainkan para ahli IT yang bekerja dengan perangkat lunak. Suka tidak suka, Internet of Things membentuk kita mulai hari ini.

Perubahan tersebut dapat kita rasakan di lingkungan terdekat kita sekalipun, tentu kita masih ingat bahwa setelah ibu-ibu rumah tangga masak menggunakan tungku kayu bakar, kompor sumbu dengan bahan bakar minyak tanah mulai masuk pasar kala itu. Dan pada saat ini berubah total menjadi kompor-kompor baru menggunakan Liquefied Petroleum Gas yang familiar disebut sebagai gas LPG maupun kompor elektrik.

Tak sampai disitu, fenomena model bisnis baru berbasis teknologi aplikasi kini berada di smartphone yang kita gunakan sehari-hari. Belanja tidak lagi perlu ke pusat perbelanjaan atau pasar, bahkan untuk supply raw material produksi dalam jumlah besar sekalipun dapat diakses dan diperoleh dengan mudah.

Black Cab Protest in London

Selain sektor perdagangan yang berubah begitu cepat, Uber hadir pada tahun 2009 sebagai transportasi online danmengancam eksistensi taksi konvensional di Amerika pada saat itu. Kemudahan akses penumpang maupun pengemudi serta fixed price yang sudah ditentukan melalui aplikasi memberikan kenyamanan lebih untuk pelanggan dibanding taksi konvensional.

Dunia tengah menyaksikan runtuhnya perusahaan-perusahaan besar yang sepuluh hingga tiga puluh tahun lalu begitu besar mulai tumbang di sana-sini, seperti yang dialami Kodak dan Nokia. Mengapa itu bisa terjadi? Fenomena ini disebut sebagai disruption. Model bisnis dan kebutuhan masyarakat terus berkembang dan berubah sehingga akan menggerus dan meninggalkan para pemain lama yang tetap konservatif dan tidak mengikuti perubahan. Hal inilah yang akan kita bahas lebih lanjut dalam pembahasan selanjutnya mengapa disruptive phenomenon bisa terjadi dewasa ini seiring dengan berkembangnya industrial revolution dan bagaimana mengatasinya.

Slide presentasi materi ini dapat diunduh di sini

History of Industrial Revolution

Perubahan zaman selalu ditandai dengan peristiwa penting yang terjadi sebagai titik balik kelahiran era baru, demikian halnya perubahan kehidupan sosial-ekonomi masyarakat eropa pada abad ke 18 melalui revolusi industri pada masa itu. Revolusi Industri merupakan periode perubahan besar-besaran di berbagai sektor. Mulai dari sektor pertanian, produksi, transportasi, dan teknologi yang memiliki dampak krusial terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan budaya di dunia.

Revolusi Industri dimulai dari Inggris hingga menyebar ke seluruh Eropa Barat, Amerika Utara, dan ke seluruh dunia. Sebagai tonggak sejarah dunia, revolusi industri mempengaruhi berbagai aspek dalam kehidupan sehari-hari. Khususnya dalam hal peningkatan pertumbuhan populasi dunia serta pendapatan rata-rata penduduk setelah beralih dari budaya agrikultur. Seperti yang disampaikan oleh Robert E. Lucas Jr

For the first time in history, the living standards of the masses of ordinary people have begun to undergo sustained growth. Nothing remotely like this economic behaviour is mentioned by the classical economists, even as a theoretical possibility.[1]

Peraih nobel di bidang ekonomi pada tahun 1995 ini menyatakan bahwa untuk pertama kalinya dalam sejarah, standar hidup rakyat biasa mengalami pertumbuhan yang berkelanjutan. Perilaku ekonomi seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya bahkan sebagai kemungkinan teoretis oleh para pakar ekonomi klasik.

Salah satu faktor yang melatarbelakangi kebangkitan revolusi industri adalah terjadinya revolusi ilmu pengetahuan pada abad ke 16 dengan munculnya para ilmuan seperti Francis Bacon, René Descartes, Galileo Galilei serta adanya pengembangan riset dan penelitian. Ada juga beberapa faktor internal seperti ketahanan politik dalam negeri, perkembangan kegiatan wiraswasta, dan sumber daya alam.

Penggunaan istilah “Industrial Revolution” pertama kali digunakan dalam surat yang ditulis oleh utusan Perancis Louis-Guillaume Otto pada 6 Juli 1799, mengumumkan bahwa Perancis telah memasuki perlombaan industri.[2] Istilah Revolusi Industri digunakan untuk perubahan teknologi pada umumnya pada akhir 1830-an. Istilah Revolusi Industri juga dikemukakan oleh Friedrich Engels dalam bukunya The Condition of the Working Class in England pada tahun 1844. Seorang filsuf Jerman ini mengatakan bahwa Revolusi Industri adalah sebuah revolusi yang pada saat yang sama mengubah masyarakat sipil seluruhnya.[3] Istilah ini selanjutnya dipopulerkan oleh Arnold Toynbee pada tahun 1881.[4] Revolusi Industri berkembang melalui empat tahap hingga kini disebut sebagai Industrial Revolution 4.0.

Fase Pertama, dimulai sekitar tahun 1760 hingga 1850 yang kemudian disebut sebagai Industrial Revolution 1.0 di mana terjadinya peralihan penggunaan tenaga kerja di Inggris yang sebelumnya menggunakan tenaga hewan dan manusia, yang kemudian digantikan oleh penggunaan mesin. Periode awal dimulai dengan penggunaan mesin untuk industri tekstil, pengembangan teknik pembuatan besi dan peningkatan penggunaan batubara. Ekspansi perdagangan turut dikembangkan dengan dikembangkannya sarana transportasi, perbaikan jalan raya, hingga rel kereta api. Adanya peralihan dari perekonomian yang berbasis pertanian ke perekonomian yang berbasis manufaktur menyebabkan terjadinya perpindahan penduduk besar-besaran dari desa ke kota, dan pada akhirnya menyebabkan membengkaknya populasi di kota-kota besar di Inggris.

Ilustrasi awal fase revolusi industri pertama

Awal periode revolusi industri secara tepat masih diperdebatkan diantara para ahli sejarah karena laju pertumbuhan sosial ekonomi yang sangat cepat. Eric Hobsbawm berpendapat bahwa Revolusi Industri dimulai di Inggris pada tahun 1780 dan tidak sepenuhnya dirasakan sampai tahun 1830-an atau 1840-an,[5] sedangkan T.S. Ashton berpendapat bahwa itu terjadi kira-kira antara tahun 1760 dan 1830.[6] Industrialisasi yang cepat pertama kali dimulai di Inggris, dimulai dengan produksi mesin pemintal pada tahun 1780-an. Produksi mesin tekstil menyebar dari Inggris ke benua Eropa dan Amerika Serikat pada awal abad ke-19.

Fase Kedua, resesi ekonomi mulai terjadi sekitar akhir tahun 1830 hingga awal 1840. Produksi menggunakan mesin pemintal dan tenun mekanis mulai melambat dan mengalami penurunan. Inovasi baru mulai dikembangkan kembali pada di tahap ini. Produksi lokomotif, kapal uap, dan teknologi baru lainnya seperti telegraf listrik mulai berkembang dan diperkenalkan secara luas sekitar tahun 1840 dan 1850.

Pertumbuhan ekonomi yang cepat kembali terlihat setelah tahun 1870, muncul dari inovasi baru lainnya yang kemudian disebut sebagai Industrial Revolution 2.0. Termasuk proses baru pembuatan baja, produksi massal, produksi perakitan, sistem jaringan listrik, pembuatan alat-alat mesin berskala besar serta penggunaan mesin yang semakin maju di pabrik produksi bertenaga uap.

Revolusi Industri kedua sering dicirikan dengan produksi baja sebagai sektor baru dalam industri produksi pada awal tahun 1850. Kemudian secara bertahap tumbuh mencakup industri kimia, minyak bumi, hingga industri otomotif pada awal abad ke-20. Teknologi-teknologi baru lainnya mulai ditemukan di revolusi industri pada tahap ini seperti  kereta uap yang ditemukan oleh Richard Trevithick pada tahun 1804, pesawat telepon oleh Alexander Graham Bell pada tahun 1872, mobil dengan bahan bakar minyak oleh Karl Benz pada tahun 1886, hingga pesawat terbang oleh Wright Brothers pada tahun 1903.

Fase ketiga, munculnya teknologi digital dan internet menandai awal mula Revolusi Indusri 3.0 dengan dikenalkannya sistem teknologi informasi dan komputerisasi (Information Technology and Computerization) untuk menunjang otomatisasi produksi (product automation). Proses revolusi industri ini menurut David Harvey disebut sebagai proses pemampatan ruang dan waktu. Ruang dan waktu semakin terkompresi dan memuncak pada revolusi tahap 3.0 yang disebut sebagai revolusi digital dimana segala sesuatu terintegrasi secara real time.

Fase keempat, ditandai dengan pengembangan artificial Intelligence, augmented reality, Internet of Things, nano technology, dan inovasi-inovasi baru lainnya yang kemudian dikenal sebagai Industrial Revolution 4.0. Perubahan tersebut terjadi dalam kecepatan eksponensial yang akan berdampak terhadap ekonomi industri maupun sektor lainnya. Istilah Industry 4.0 pertama kali digunakan di Jerman pada tahun 2011 yang ditandai dengan revolusi digital sebagai industri yang mencakup berbagai basis teknologi mulai dari 3D Printing hingga robotik yang diyakini mampu meningkatkan produktivitas industri.

Tahap industri 4.0 dapat kita rasakan pada saat ini dengan berkembangnya penggunaan artificial intelligence dengan algoritma yang dikembangkan oleh aplikasi sosial media seperti facebook dan Instagram. AI digunakan untuk mendeteksi ketertarikan pengguna dibidang teretentu sehingga iklan yang ditampilkan lebih strategis dan tepat sasaran.

Baca Part 2 di sini : The Great Shifting as Disruptive Phenomenon – Part 2


[1] Robert E. Lucas Jr. (2002). Lectures on Economic Growth. Cambridge: Harvard University Press

[2] François Crouzet (1996). France. In Roy Porter, Mikulas Teich. The industrial revolution in national context: Europe and the USA. Cambridge University Press

[3] An industrial revolution, a revolution which at the same time changed the whole of civil society.

[4] Pat Hudson (1992). The Industrial Revolution. London: Edward Arnold

[5] Eric Hobsbawm, The Age of Revolution: Europe 1789–1848, Weidenfeld & Nicolson Ltd., p. 27

[6] Joseph E Inikori. Africans and the Industrial Revolution in England, Cambridge University Press.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *