Haji Mardud atau Haji Maqbul atau Haji Mabrur?

NOVEMBER 2011

Drs. Azwar Chatib, M.Si

Dosen Filsafat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

 

Melaksanakan ibadah haji tentunya tak sekadar untuk mendapatkan gelar haji, melainkan mengharap ridho Allah semata, dengan begitu amalannya diterima dan menjadi tidak sia-sia

 

Apa Haji Mabrur itu

Kata mabrur berasal dari bahasa Arab yaitu al birrun yang artinya ‘baik’, dan al mabrur sendiri berarti yang penuh kebaikan. Dari arti katanya sendiri telah jelas bahwa haji mabrur adalah haji yang penuh dengan kebaikan. Sebagian ulama mengatakan haji mabrur itu adalah haji yang tidak ada maksiat dan cacat cela di dalamnya.

Untuk mengetahui makna haji mabrur, perlu diketahui mengenai tingkatan-tingkatan haji. Tingkatan haji itu ada tiga, yang pertama haji mabrur, yang kedua haji maqbul, dan yang ketiga haji mardud. Haji maqbul (diterima) adalah ibadah haji yang diterima oleh Allah, dan telah menggugurkan kewajiban berhaji. Haji mardud (ditolak) adalah haji yang di tolak oleh Allah karena di dalamnya dicampuri oleh perbuatan dosa serta maksiat kepada Allah, tidak menggugurkan kewajiban berhaji dan menjadi sia-sia ibadah hajinya.

Haji mabrur merupakan tingkatan  haji yang tertinggi, yaitu haji yang diterima oleh Allah, telah menggugurkan kewajiban berhaji, dan dapat mengantarkan pelakunya kepada perilaku yang lebih baik dari sebelumnya.

 

Menggapai Kemabruran dalam Berhaji

Sekalipun untuk menggapai predikat mabrur dari Allah begitu sulit, namun semua itu dapat diupayakan jika kita bersungguh-sungguh. Salah satunya adalah dengan niat yang ikhlas semata-mata karena Allah, bukan karena ingin mendapat gelar haji, atau karena hal-hal keduniawian yang lain.

Mengikuti cara-cara yang dicontohkan oleh Rasulullah, yaitu dengan melaksanakan rukun haji, wajib haji, dan sunah-sunah yang diajarkan. Ini merupakan ilmu yang harus dimiliki bagi orang yang ingin berhaji. Tanpa ilmu, amalan yang dilakukan akan sia-sia.

Berhaji menggunakan harta yang halal,  halal dalam kepemilikannya dan halal pula cara mendapatkannya. Sia-sia sajalah apabila kita berhaji dengan menggunakan uang yang haram, misalnya uang hasil korupsi atau mencuri. Allah akan menolak amalan tersebut.

Tidak ada maksiat dan rafas (perbuatan tercela) di dalamnya. Dalam berhaji selalu melaksanakan yang diperintahkan Allah dan menjauhi larangannya.

 

Ciri Orang Mendapatkan Haji Mabrur

Seseorang yang telah meraih haji yang mabrur, tidak hanya hubungan dengan Allah yang menjadi baik, tetapi hubungan dengan sesamapun menjadi semakin baik. Dia akan tampil dengan perilaku yang baru yang lebih baik dari sebelumnya, berakhlak mulia dan lebih islami. Dia juga tampil dengan memberikan manfaat yang banyak bagi orang lain.

Dalam hadits Rasulullah: “Al hajjul mabrrur laisa lahuu jazaa illal jannah.” HR Bukhari,  bahwa haji mabrur akan selalui ditandai dengan perubahan dalam diri pelakunya dengan mengalirnya amal saleh yang tiada putus-putusnya.

 

Bermanfaat Bagi Orang Lain

Pada hakikatnya haji yang mabrur membuat pelakunya semakin peka dan peduli dengan keadaan sosial disekitarnya. Sehingga ia memposisikan diri untuk selalu berbuat baik dan senantiasa berbagi dengan orang lain. Hal ini merupakan aplikasi dari serangkaian ibadah haji yang telah dilaksanakannya.

Setiap rangkaian ritual ibadah haji yang dilakukan itu mengandung makna dan hikmah tersendiri yang mengantarkan pelakunya kepada Sang Pencipta dan hakikat dirinya sebagai manusia.  Hal ini menjadikan dia tahu dan sadar bahwa hajinya bukan sekadar tanggung jawab personal, tapi juga menyadari bahwa dia punya tanggung jawab terhadap lingkungan sosialnya. Tanggung jawab itu ditunjukkan dengan perbuatan nyata sehari-hari yang bermanfaat bagi banyak orang. Dengan begitu keberadaannya menjadi sangat berarti bagi orang-orang disekitarnya. Inilah yang menjadi nilai tambah pada haji mabrur, tidak hanya mulia di mata Allah tetapi juga mulia di hadapan manusia.

 

Menjadi Mabrur Merupakan Sebuah Proses

Menjadi haji mabrur merupakan sebuah proses panjang yang harus terus diupayakan. Tak hanya sebatas saat melaksanakan ibadah haji, tapi juga harus berlanjut sampai setelah kepulangan dari berhaji. Memang tak mudah, tapi ini bukan suatu hal yang mustahil bagi orang yang bersungguh-sungguh dan kuat imannya.

Untuk itu, sangat diperlukan sikap selalu istiqomah dalam menaati dan tuduk kepada Allah SWT, agar akhlak yang baik itu senantiasa tertanam di dalam diri dan menjadi kepribadian diri. Bila kepribadian seperti itu terus berlanjut sampai ajal menjemput, insya Allah akan mendapatkan kemabruran yang berujung diridhoi Allah untuk masuk ke syurga yang telah dijanjikan-Nya.  •

AddThis Social Bookmark Button